Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 Juni 2014

Taddabur Alam ke Negeri di Awan



Saya pernah membaca di sebuah majalah wanita ternama, . seorang pujangga bernama St. Agustinus mengatakan : “Dunia ini bak sebuah buku. Bila Anda hanya berdiam diri di rumah, berarti Anda hanya membuka satu halaman.” Karena tidak mau rugi lantaran hanya membuka satu halaman buku yang sudah berada di tangan, maka banyak orang lalu memilih berjalan ke luar rumah, ke luar kota, ke luar daerah atau bahkan ke luar negeri, meski harus merogoh kocek bepuluh-puluh juta demi memuaskan rasa ingin tahunya dengan cara “membaca” seluruh halaman yang ada di buku itu.

Baru-baru ini saya mendapat kesempatan” membaca” halaman buku itu berkat “syafaat dari anak-anak. Ya, saya mengatakan ini syafaat (pertolongan) karena berkat mereka saya bisa mengunjungi tempat-tempat menarik yang menambah kekayaan rohani dan pengetahuan saya.

Salah satu tempat yang saya kunjungi baru-baru ini adalah Wonosobo dimana si bungsu mengikuti Jambore Daerah SD/MI KE 3. Menyelam sambil minum air atau sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Ya menjenguk anak, ya berziarah ke makam wali  juga plesiran. Lengkap, ha..ha..

Tepat pukul 03.45 saya dan rombongan sampai di Wonosobo. Instirahat sambil menunggu waktu sholat subuh di Masjid Jami’ Wonosobo, sarapan kemudian bablas menuju Dieng Plateau (Dataran Tinggi Dieng) yang berjarak sekitar 26 km, dengan armada minibus yang sudah disiapkan oleh pihak biro perjalanan.

siap mengantar Anda, Wonosobo-Dieng


Dieng Plateau (Dataran Tinggi Dieng ) ini ibarat sepotong kahyangan yang jatuh ke bumi. Dengan ketinggian sekitar 2.100 meter dari permukaan laut, tentu saja udara di daerah ini segar dan bersih. Pemandangannya sangat menakjubkan dan didukung suasana yang sangat tenang, cocok sekali untuk tempat refreshing sekaligus Tadabbur Alam jelang Ramadhan yang  merupakan sarana pembelajaran untuk lebih mengenal keMahabesaran Allah SWT yang telah menciptakan langit dan bumi serta segala isinya. Taddabur alam juga bisa digunakan untuk meningkatkan intensitas syukur kepadaNya. Dalam bahasa Sansekerta, Dieng bisa diartikan “gunung tempat tinggal dewa-dewi.” Namun dalam bahsa Jawa diartikan “wilayah yang indah.”

Pemandangannya sangat menakjubkan dan didukung suasana yang sangat tenang

Sepanjang Perjalanan menuju Dieng, terutama jika sudah mendekati wilayah Dieng, mata senantiasa dimanjakan dengan panorama indah dan dihadapkan pada lekuk jalur dengan rute berliku mengelilingi bukit dengan pemandangan pegunungan dan ladang penduduk di kanan kiri. Jika Anda Hobi memotret, siap-siaplah tak bisa lepas dari kamera karena pemandangan di sepanjang perjalanan hingga lokasi dataran tinggi Dieng akan merengek memaksa Anda untuk membidik dan menekan tombol kamera.

sepotong kahyangan yang jatuh ke bumi

Daya tarik utama wisata Dieng sebenarnya adalah candi-candi Hindu tertua di Indonesia yang ditemukan Eric Van Erph (penemu candi Borobudur) pad abad XIX yang terhampar di areal luas dan datar pada puncak Dieng. Di tengah, sekelompok candi ( Arjuna, Srikandi, Semar, Puntadewa dan Sembodro) berjejer dengan rukun. Sementara di tempat terpisah ada candi Bima, Gatotkaca dan Dwarawati.
Berjejer dengan rukun
 
Komplek candi Arjuna

Ada banyak tradisi  menarik di Dieng ini, misalnya Ritual Budaya yaitu Ruwatan Rambut Gimbal yang biasanya diadakan Setahun Sekali pada bulan Agustus. Rambut gimbal. Rambut gimbal yang ini benar-benar asli bukan hasil kreasi salon kayak yang dipunyai penganut aliran Reage atau Rasta seperti Bob Marley. Menurut keterangan mbak Yati, pemandu wisata kami, Rambut Gimbal Alami ini tumbuh hanya pada rambut anak-anak tertentu di Sekitar Dataran Tinggi Dieng. Mitos yang berkembang dan dipercaya sebagian masyarakat Dataran Tinggi Dieng, rambut gimbal dianggap bisa membawa musibah atau masalah di kemudian hari, sehingga mesti diruwat, karena dipercaya akan mendatangkan rezeki dan si anak dapat hidup normal dengan rambut yang normal. Sebelum dicukur rambutnya, ia akan terlebih dahulu ditanya  apa yang diinginkan sebagai syarat agar rambutnya boleh di potong. Permintaan anak tersebut harus dipenuhi, jika tidak, maka rambut Gimbal dikepalanya akan tumbuh lagi meski dipotong berkali-kali.
Sebelum prosesi pemotongan rambut Gimbal, ngumpul dulu di sini

Sebelum upacara pemotongan rambut, akan dilakukan ritual doa di beberapa tempat agar upacara dapat berjalan lancar. Tempat-tempat tersebut adalah Candi Dwarawati, komplek candi Arjuna, Sendang Maerokoco, Candi Gatot Kaca, Telaga Balai Kambang, Candi Bima, Kawah Sikidang, komplek Pertapaan Mandalasari (gua dimana pak Harto pernah bertapa) di kompleks Telaga Warna, Kali Pepek, dan tempat pemakaman Dieng.

Sikidang yang memesona   
Kawah Sikidang memberikan nuansa lain pada pariwisata Dieng. Pemandangan alam segar berwarna hijau mendadak lenyap begitu memasuki kompleks kawah ini. 

Sejauh mata memandang, hanya hamparan tanah tandus dikelilingi perbukitan dengan kolam yang terus menerus mengepulkan asap  

Narsis bareng mbak Yati, pemandu wisata kami 

Bergaya ala Capres

Dieng memang luar biasa. Kawah sikidang, Telaga Warna, Gua Semar, Goa sumur, Telaga Pengilon, Telaga Menjer, Kebun teh Tambi, Air Terjun Sikarim, Pemandian Kalianget, Bedekah, Waduk Wadaslintang, Dieng Plateau Theater dan Museum Kaliasa merupakan kawasan Wisata Wonosobo yang patut dikunjungi.

Telaga Warna 

Goa Semar 

Kegiatan jelajah alam peserta Jamda SD/MI di kawasan Telaga Warna 

Akhirnya sampai juga di lokasi Jamda, Kalianget

Puas memanjakan mata, kini giliran memanjakan perut dengan kuliner khas Dieng. : Mie Ongklok, Carica Dieng, Purwaceng, Tempe Kemul dan lain-lain.
Baca Terusannya »»  

Senin, 01 Agustus 2011

Sulit nggak sih mengajak anak berpuasa ?


"Assalamualaikum Wr. Wb.
Selamat datamg dalam penerbangan 1432H. Tidak lama lagi kita akan menempuh penerbangan dengan waktu 30 hari, mohon tegakkan kursi iman dan taqwa, pasang sabuk pengaman dzikir , tahajud dan sodaqoh jariyah. Pilot kita Al Islam, co- pilot Al Qur'an dan Al Hadits, ditemani pramugari Rohmah dan Maghfiroh menuju Jannah. Kami berharap dapat menerbangkan kita menuju jannaunnaim. Allahu Akbar..... Taqoballahu minna wa minkum... mohon ma'af lahir batin"

Itulah bunyi sms dari "Bos" yang membangunkan aku dari belaian mimpi indah. Hari ini makan sahur pertama keluargaku. Diawali dengan anak keduaku yang segera ambil air wudhu, suamiku dan si bontot yang baru duduk di kelas tiga MI ( anak pertama ada di Jember, Jatim sedang nyantri di Al Jauhar dan kuliah di  F MIPA UNEJ).

Baru mau makan sahur si bontot sudah usul menu buka puasa :" Bunda, jangan lupa es blewah tuk buka puasa nanti." Tidak cukup permintaan masih ditambah ancaman : "Kalau gak ada es blewahnya, adik gak jadi puasa." Aduh ini puasa koq seperti ajang menindas orang tua ya ... tidak apa kalau ancaman itu keluar dari anak sekecil Abid. Sudah mau diajari puasa sudah sangat bersyukur. Toh sudah cukup banyak yang ia perbuat untuk membahagiakan kedua orang tuanya menjelang ramadhan ini, diantaranya berhasil mengkhatamkan Al Qur'an 30 juz dan lulus dari TPQ. Sebagai orang tua, tiada hal yang paling membahagiakan selain mempunyai anak yang soleh solehah, berprestasi dan mau berhidmah dari hasil kemajuan ilmu yang dicapainya. Amin...

Banyak orang tua mengeluh sulit mengajak mereka berpuasa sejak dini, termasuk aku. Tapi masa itu telah berlalu seiring dengan berjalannya waktu dan setelah dikaruniai anak ke tiga. Belajar dari pengalaman, anak ternyata lupa rasa laparnya kalau kita ajak beraktivitas sesuai kesenangannya, misalnya membacakan buku cerita, berkreasi dengan mainannya dan berkumpul dengan teman-temannya di Surau atau Musholla.Kebetulan di kampungku tradisi berkumpul di surau untuk melakukan kegiatan- kegiatan ramadhan masih berjalan, dimulai setelah sahur, jamaah sholat subuh , mengaji dan dilanjutkan dengan aktifitas bermain sebelum pergi sekolah. Pulang sekolah, pada siang harinya (setelah berbuka siang) berkumpul kembali di musholla untuk kegiatan seperti di pagi hari sampai menjelang ashar, begitu seterusnya hingga tak terasa tiba masa lebaran.

Awalnya memang tak mudah menahan lapar dan haus sepanjang hari, tapi percayalah dengan kesabaran dan ketelatenan anak bisa belajar puasa. Jangan lupa tetap berdo'a untuk mohon pertolongan Allah agar dimudahkan membimbing putra putri kita beribadah terutama melaksanakan ibadah puasa. Sebisa mungkin jauhkan anak- anak dari tayangan televisi yang kurang mendidik, karena apapun yang ditampilkan di televisi hampir pasti ditiru dan dibuat wirid anak bahkan masyarakat.

Televisi dengan gemilang telah mampu merubah yang tabu menjadi nilai-nilai baru yang pantas. Ramadhan seolah bulan hiburan dan banjir hadiah. Yang lebih mengenaskan ketika agama masuk menjadi bagian materi lawakan yang semata-mata ingin ditertawakan oleh pemirsa hingga lupa esensi nilai-nilai moral atau nilai-nilai agama.
Tak hanya berdo'a, kitapun harus memaksimalkan ikhtiar dengan memperbanyak ilmu mengenai makna berpuasa dan menemukan cara tepat dan efektif untuk menjelaskannya pada anak. Tak ada salahnya belajar dari pengalaman tetangga atau teman-teman lain yang lebih dulu sukses mengajak putera-puterinya puasa. Sesekali memanjakan anak dengan hal-hal/ makanan kesukaannya bukan suatu kesalahan sebagai reward dari hasil usahanya berpuasa, toh akhirnya pahalanya berpulang pada kita.

Suatu anugrah yang sangat indah apabila hidup dan kehidupan yang harmonis: Suami yang bertanggung jawab sebagai imam keluarga, putera puteri yng tampan/ cantik serta sholeh/ sholehah, kesehatan jasmani dan rohani dan materi yang cukup sebagai pendukung ibadah dapat kita raih. Dan itu sesuatu yang tidak mustahil, insya Allah dengan ikhtiar maksimal dan mensyukuri apa yang ada (telah diberikanAllah) sebagi anugerah luar biasa.

Di Kompasiana enam jam yang lalu Bung Dany Indrianto dalam statusnya menulis:
Hidup adalah anugerah terindah untuk kita. Hidup ini merupakan anugerah dari yang memberi hidup. Janganlah hidup ini selalu disalahkan karena persoalan kehidupan. Mungkin rasa syukur kita yang kurang atas anugerah terindah dari Yang Memberi Hidup. Hidup ini sangat ajaib.Marilah kita bersama2 munajad ke Tuhan dan mengucapkan terimakasih dan mengungkapkan rasa syukur kita atas anugerah terindah ini. Kealpaan kita selama ini, kita menganggap hidup merupakan sesuatu yang ada begitu saja. Kita pun lupa perjanjian kita dengan Yang Memberi Hidup. Kealpaan inilah yang membuat hidup kita tidak tenang.
Ada sesuatu yang dicari, tapi nggak tau apakah itu. Ada rasa yang kurang, setelah semua kebutuhan material terpenuhi. Inilah awal kesadaran kita, ketika kita menjalankan perjalanan ini belum bersandarkan pada yang abadi maka kita akan tetap tidak tenang dan gelisah. Kita tidak pernah menyekolahkan hidup kita. Seandainya pun akan disekolahkan kita pun menjadi bingung, dimana? Hanya kerinduan kita akan Tuhan yang substansial, Tuhan Yang Memberi Hidup kita yang akan membimbing kita kearah cahaya yang lebih terang. Mencari cahaya hanya dapat dilakukan dengan memancarkan cahaya. Kegelapan akan sirna dihadapan cahaya.

Taqobballahu minna waminkum......mohon maaf lahir batin, selamat menjalankan ibadah puasa 1432 H. Semoga kita mendapat berkah dan ampunan di bulan suci ini, amiin.

Baca Terusannya »»