A. PENDAHULUAN
Bermain merupakan cara yang paling tepat untuk mengembangkan kemampuan
anak PAUD sesuai kompetensinya. Melalui bermain, anak memperoleh dan memproses
informasi mengenai hal-hal baru dan berlatih melalui keterampilan yang ada.
Bermain disesuaikan dengan perkembangan anak. Permainan yang digunakan di PAUD
merupakan permainan yang merangsang kreativitas anak dan menyenangkan. Untuk
itu bermain sambil belajar dan belajar sambil bermain merupakan prinsip pokok
dalam pembelajaran di PAUD (Depdiknas, 2006). .
Seto Mulyadi (2006) psikolog anak, menjelaskan bahwa anak adalah anak,
anak bukan manusia dewasa mini, karena itu metode pembelajaran terhadap anak
harus disesuaikan dengan perkembangannya. Dunia anak adalah dunia bermain. Pada
dasarnya anak senang sekali belajar, asal dilakukan dengan cara-cara bermain
yang menyenangkan.
Menyiapkan lingkungan kegiatan bermain yang bermakna,
aman, nyaman dengan pengembangan konsep PAUD serta berbasis pada Karakter
Budaya Bangsa adalah ciri pembelajaran
yang berorentasi pada kebutuhan anak untuk mewujudkan PAUD holistic Integratif.
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Holistik-Integratif adalah
pengembangan anak usia dini yang dilakukan berdasarkan pemahaman untuk memenuhi
kebutuhan esensial anak yang beragam dan saling berkait secara simultan dan
sistematis, yang meliputi berbagai aspek pengembangan fisik dan non fisik, agar
anak dapat tumbuh kembang sebagai anak yang sehat, kuat, cerdas, ceria, dan
berbudi luhur. Pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini secara fisik,
mental, emosional, dan sosial dipengaruhi oleh pemeliharaan kesehatan,
pemenuhan gizi, pendidikan, stimulasi mental, dan psikososial (Bappenas)
Upaya yang ditempuh oleh Tutor/ Pendidik untuk mewujudkan
hal tersebut salah satunya adalah
menciptakan ragam main yang berbasis muatan lokal/kearifan lokal.
Ragam main berbasis kearifan lokal adalah ragam main yang mengajarkan
peserta didik untuk selalu dekat dengan situasi konkrit yang mereka hadapi
sehari-hari. Ragam main berbasis kearifan lokal merupakan sebuah contoh ragam
main yang mempunyai relevansi tinggi bagi kecakapan pengembangan hidup, dengan
berpijak pada pemberdayaan ketrampilan serta potensi lokal pada tiap-tiap
daerah.
Keunggulan lokal adalah
segala sesuatu yang merupakan ciri khas kedaerahan yang mencakup aspek ekonomi,
budaya, teknologi informasi dan komunikasi, ekologi, dan lain-lain. Salah satu
sumber mengatakan bahwa Keunggulan lokal adalah hasil bumi, kreasi seni,
tradisi, budaya, pelayanan, jasa, sumber daya alam, sumber daya manusia atau
lainnya yang menjadi keunggulan suatu daerah (Dedidwitagama,2007). Dari kedua
pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa Keunggulan Lokal (KL) adalah suatu
proses dan realisasi peningkatan nilai dari suatu potensi daerah sehingga
menjadi produk/jasa atau karya lain yang bernilai tinggi, bersifat unik dan
memiliki keunggulan komparatif.
Di Jepara terdapat beberapa sentra industri kerajinan yang merupakan
Keunggulan Lokal dan tradisi turun
temurun dari peninggalan nenek moyang yang tetap lestari sampai sekarang.
Jepara dikenal sebagai
Kota
ukir, karena terdapat sentra kerajinan ukiran kayu, ketenarannya hingga ke
luar negeri. Kerajinan mebel dan ukir ini tersebar merata hampir di seluruh
kecamatan dengan keahlian masing-masing. Namun sentra perdagangannya terlekat
di wilayah Ngabul, Senenan, Tahunan, Pekeng, Kalongan dan Jalan Pemuda. Selain
itu, Jepara merupakan
kota kelahiran pahlawan
wanita
Indonesia
R.A. Kartini.
Potensi Kabupaten Jepara antara lain:
- Industri Mebel Ukir Jepara. Industri ini tersebar luas di
hampir semua kecamatan Jepara, kecuali Kecamatan Karimun Jawa
- Kerajinan Patung & Ukiran. Sentra Kerajinan ini terdapat
di desa Mulyoharjo Jepara. Di sana
terdapat lebih dari 90 pengusaha di bidang kerajinan Patung dan Ukiran
- Kerajinan Relief.Sentra. Kerajinan ini terdapat di Desa
Senenan, dekat Rumah Sakit Kartini Senenan Jepara.
- Mebel & Kerajinan Rotan. Kerajinan rotan ini tersentra di
Desa Teluk Sidi Jepara.
- Tenun Ikat Troso
(sarung, sprei, korden, bahan baju terbuat deri sutra dan katun). Sentra
Tenun ini tersentra di daerah Troso,
Pecangaan, Jepara.
- Kerajinan Monel di Kriyan, Kalinyamatan, Jepara.
- Kerajinan Gerabah Mayong
- pariwisata
Industri Mebel dan Kerajinan merupakan industri andalan kabupaten Jepara.
Industri tersebut telah menjadi tulang punggung perekonomian Jepara. Jepara
juga memiliki banyak objek pariwisata menarik yang dapat dikembangkan lebih
baik lagi, diantaranya Pantai Kartini, Bandengan dan Karimun Jawa. Karena
keterbatasan APBD yang ada, maka pengembangan pun belum optimal. Selain itu,
yang saat ini menarik adalah wisata budaya dan wisata industri. Industri mebel /
ukir jepara, tenun ikat Troso yang
berbasis HOME INDUSTRI dan merupakan kerajinan tangan yang dikembangkan menjadi
wisata industri, wisata belanja produk kerajinan Jepara.
Sebagai PAUD yang lahir
dan berada di tengah-tengah masyarakat industri kerajinan tenun ikat Troso, KB "Matholi’ul Huda" tidak lepas
dari pengaruh budaya, tradisi dan sumber
daya masyarakatnya yang berprofesi sebagai pengrajin tenun. Tentu saja dampak
yang ditimbulkan juga berimbas pada kelestarian alam lingkungan sekitar,
terutama dampak hasil industri berupa sisa/limbah non organik, misalnya: sisa-
sisa benang, ondol, plastik, karet slop, kaleng bahan pewarna (wenter), besi,
bendrat dan bekas perangkat alat ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) lainnya.
Oleh karena itu
terbesit keinginan penulis untuk ikut sedikit mengurangi dampak buruk
pencemaran tersebut, dengan cara memanfaatkan sebagian limbah menjadi alat
permainan edukatif sebagai ragam main atau sumber belajar di PAUD untuk
beberapa bidang pengembangan.
Ada tiga ragam main yang kami buat,
masing-masing mempunyai keunikan sendiri-sendiri sebagai sumber belajar, yaitu:
1.
Permainan
menyolet/ membatik
Menyolet adalah suatu proses memberi motif
pada tenun ikat dengan cara mengikat kain atau benang dengan rafia mengikuti
pola yang sudah dibuat sebelumnya. Biasanya dilakukan sebelum proses pemberian
warna keseluruhan ( MENTER) .
Untuk mengenalkan profesi ini pada anak,
penulis membuat ragam main menggunakan kain sutera sisa sortiran/adanan atau BS sebagai media untuk
membatik atau menyolet menjadi motif
jimpitan.
2.
Menenun/
menganyam benang menjadi kain

Proses ini dilakukan untuk menghasilkan
kain ikat, biasanya menggunakan berbagai macam benang tergantung jenis yang
diinginkan pasar maupun tujuan penggunaannya. misalnya: katun, sutra,
mercereised, ondol,filamen, nilon dan lain-lain.
Dalam ragam main ini penulis menggunakan
media papan kayu ringan dan paku pengait yang dibengkokkan serta menggunakan
benang sisa yang biasanya terbuang begitu saja.
3.
Membuat Rok untuk Boneka Benang Limbah
Boneka ini terbuat dari sisa benang katun
ondol yang biasanya digunakan sebagai bahan dasar cover bed, bantalan/jok, tas,
jaket dan aneka produk kerajinan tangan.
Penulis sengaja menampilkan ragam main yang diadaptasi dari tradisi bermain golek
pada masa lalu yang akhir-akhir ini terlupakan karena tergeser oleh mainan
buatan pabrik yang mudah didapat dengan berbagai model menarik(yang kemudian
melahirkan budaya konsumtif di kalangan anak-anak).
Boneka
benang ini bisa dibuat dengan cara mengikat sekumpulan benang limbah/
sisa dengan benang kasur, kemudian dibagi menjadi beberapa bagian seperti:
kepala, badan, tangan dan kaki dengan cara diikat pula. Untuk mendapatkan
boneka yang kuat, maka bagian kepala, badan, tangan dan kaki diberi kapas
bagian dalamnya.
Dalam ragam main ini anak membuatkan rok untuk boneka dengan teknik menggunting
bahan/kain sisa sortiran yang sudah dipola dengan kapur atau spidol oleh guru,
dan menempel manik-manik sebagai
penghias rok serta memakaikannya.
B.
TUJUAN
Pada dasarnya ketiga ragam main ini bertujuan
untuk menanamkan kepada anak tentang kepedulian terhadap pelestarian budaya bangsa, kesehatan dan keselamatan serta kelestarian alam lingkungan dengan memanfaatkan limbah/sisa
industri kerajinan tenun ikat Troso,
serta mencegah pola hidup konsumtif dalam pengadaan sumber belajar berupa alat
permainan edukatif dari limbah. Selain itu pembuatan ragam Permainan ini juga sebagai sarana untuk menggali
potensi dan kreativitas pendidik di KB "Matholi’ul Huda" Troso.
Sebagai seorang GURU/ TUTOR yang merupakan model,
motivator dan fasilitator selalu
dituntut kematangan yang mempersyaratkan Willingnes
And Ability sehingga proses belajar jadi bermakna.
Ketiga Ragam Main ini diaplikasikan dengan
model pembelajaran Sentra Bermain aktif yang berisi berbagai variasi kegiatan
bermain seraya belajar yang merupakan ciri dari kelas berpusat pada anak ( Child Oriented) dandimodifikasi sesuai
dengan perkembangan anak (Developmentally Appropriate Practice = DAP) serta
berbasis pada Kecerdasan Jamak (Muiltiple Intelligent).
1. Pengembangan Moral dan Nilai Agama
Anak belajar sabar menunggu
giliran dan mengikuti aturan permainan serta berdo’a ketika hendak memulai dan
mengakhiri kegiatan.
2. Pengembangan Sosial Emosional
Meliputi pengembangan Perasaan dan Emosi serta pengembangan Kemampuan
Sosial / Sosialisasi.
Anak mampu bertenggang rasa, saling tolong menolong dalam penbuatan rok boneka,
menenun maupun menyolet bersama teman, seolah-olah hidup dalam dunia nyata.
Pengembangan ini
mengarah pada pencapaian Kecerdasan Intrapersonal, Kecerdasan Interpersonal dan
Naturalistik.
3. Pengembangan Bahasa
Meliputi pengembangan Bahasa agar anak mampu berkomunikasi secara aktif dan
pasif dengan lingkungan. Di dalam pembuatan rok, membatik maupun menenun dapat
bekerja sama memecahkan masalah. Misalnya ketika menemui kesulitan memasukkan
pakan ke lusi, menyambung benang, menentukan pilihan warna dalam membatik,
menentukan motif, memberi asesoris/ manik-manik pada rok dan lain-lain.
Anak juga bisa melakukan 2-3 perintah, memahami kata dan kalimat sederhana,
misalnya: ”Tolong ambilkan kain itu ” dalam permainan membatik.
Pengembangan Bahasa mengarah pada pencapaian Kecerdasan Linguistik.
4. Pengembangan Kognitif
Meliputi pengembangan
Matematika Permulaan dan Sains Permulaan. Pengembangan ini mengarah pada
pencapaian Kecerdasan Logika Matematika dan Kecerdasan Visual Spatial. Anak
bermain mencelup kain pada pewarna, mengkombinasikan warna adalah memainkan
konsep sains secara sederhana.
Mengestimasi berapa jumlah
ikatan / menghitung ikatan yang akan diwarna, memasukkan benang pakan ke benang
lusi dalam menenun/ menganyam juga
memerlukan kecerdasan logis matematis serta membangun imajinasi.
5. Pengembangan Seni
Meliputi pengembangan seni keterampilan, membuat karya kreatif
(kerajinan tangan): Membatik, menganyam dan ketrampilan membuat rok Boneka
Benang.
Pengembangan Seni mengarah pada pencapaian
Kecerdasan Musikal dan Visual Spatial.
6. Pengembangan Fisik
Meliputi pengembangan Motorik
Halus (fine motor) dan Motorik Kasar (gross motor) untuk
pertumbuhan dan kesehatan anak.Ketiga ragam main ini mengandung unsur gerakan-
gerakan yang merangsang perkembangan motorik halus anak. Mulai dari Membatik/
menyolet, menenun/ menganyam benang, dan membuat rok boneka benang.
Sedang motorik kasar dicapai dalam aturan main, yaitu ketika anak pindah
bergantian main, dan saat kegiatan awal/ olah tubuh menuju ke sentra, sambil
menyanyi.
Pengembangan Fisik mengarah
pada pencapaian Kecerdasan Body Kinestetik
Anak juga belajar memenuhi kebutuhan dirinya sendiri akan pentingnya menjaga kesehatan seperti mencuci tangan
dan mengelap sampai bersih serta pemenuhan asupan gizi yang diperlukan tubuh
dalam kegiatan makan bersama waktu istirahat, guna memenuhi semua
kebutuhan dasar anak (fisik, mental, emosional, dan sosial) agar dapat
bertumbuh dan berkembang optimal sesuai potensi yang dimilikinya.
C. SASARAN
Salah satu tugas yang paling sulit bagi
guru Anak Usia Dini adalah ketika mereka harus merencanakan, mendesain,dan
memberikan pengaturan pusat sumber belajar yang sesuai dengan kurikulum yang
tepat untuk tingkat kemampuan menurut sasaran usia anak. Hal ini tentunya
sangat berhubungan dengan pembelajaran yang berpusat pada anak.
Sedang ragam main hasil pemikiran dan kreatifitas penulis ini ditujukan untuk
anak usia 5-6 tahun.
D.
ALAT DAN BAHAN
Hampir 95% alat ragam main ini menggunkan
limbah industri kerajianan tenun ikat Troso, yaitu:
- Gunting
- Cutter
- selotip
bolak-balik
- Lem bakar
- Lem kayu
- Jarum
- Cat poster
- Cat minyak
- Benang sisa/
limbah
- Kyu bekas/ sisa
reng
- paku sebagai
pengait benang
- Limbah tusuk sate
- kapas/kapuk,dakron
- kain perca
- Pewarna makanan
- Air
- Mangkok
- tali rafia
- Manik-manik
E. CARA MEMAINKAN
Pada pijakan sebelum main (pijakan
lingkungan), guru menyiapkan dan menempatkan bahan-bahan yang cukup , yaitu
tiga ragam main yang telah dibuat tadi, dengan tempat yang cukup pula.
Guru membacakan buku yang berkaitan dengan
pengalaman dan menggabungkan kosakata baru
dan menunjukkan konsep-konsep yang mendukung standar kinerja, memberikan
gagasan bagaimana menggunakan bahan-bahan, mendiskusikan aturan dan harapan,
menetapkan waktu dan mengelola anak untuk keberhasilan hubungan sosial.
Guru membagi anak kedalam kelompok kecil dan
memberi kesempatan memilih pada setiap anak ragam main apa yang akan dimainkan
lebih dulu, kemudian bergantian sesuai aturan.
Cara memainkannya sebagai berikut:
1.Menyolet/ membatik
- Guru menyiapkan
kain yang sudah dijimpit dan diikat sesuai pola
- Menyiapkan wenter,
pewarna dalm mangkuk-mangkuk kecil
- Anak menyolet pada
bagian yang tidak dijimpit dan ditali rafia dengan warna yang disukai secara selang
– seling atau mencampur dengan warna lain untuk menemukan warna baru.
- Peras bahan/ kain
yang dicolet hingga tuntas
- Setelah selesai buka ikatan
- Kain sudah
terbatik / termotif dengan indah.
2. Menenun/ menganyam Benang
- Guru menyiapkan bidang dari kayu ringan yang telah dililiti benang
melalui paku penyemat (bahan lusi)
- Guru memberi
contoh cara menganyam dengan cara mengerjakan sebagian kecil dari bidang
hingga garis-garis pola anyaman terbentuk
- Guru menyiapkan bahan pakan dengan cara menyematkan
pada pangkal tusuk sate agar anak dengan mudah memasukkan pada lusi.
- Anak meniru pola
anyaman sederhana yang dicontohkan guru hingga tercipta potongan kain yang
berupa anyaman benang.
3. Membuat Rok Boneka Benang
- Guru menyiapkan Boneka Benang yang sudah di buat
- Anak menggunting
bahan dengan mengikuti pola yang dibuat guru
- Anak memasang
manik-manik sebagai aksesoris dengan cara menempel
- Anak memakaikan
rok pada boneka.
Guru mengamati dan mencatat semua aktifitas anak
pada setiap ragam main, kemudian
mengambil kesimpulan dan penilaian.
Hasil coletan kain sutera limbah
tenunan benang limbah
Boneka benang ondol