Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Januari 2012

Pembentukan Karakter Anak Melalui Pendidikan Islami


Tidak cukup dengan memberi instruksi pada anak, pendidikan anak yang benar dan sempurna harus diperhatikan pula bagaimana kita sebagai orang tua memberikan contoh konkrit atas perilaku di dalam berkehidupan sehari-hari mulai dari bangun hingga tidur lagi.

Berdasarkan tanggung jawabnya sebagai pemimpin di rumah, orang tua terutama ibu harus mengajarkan pendidikan Islami yang benar meliputi dasar-dasar,sarana-sarana syar’i dan tujuan-tujuan mulianya. Mendidik mereka dengan akidah Islamiyah yang benar untuk  berakhlak mulia dan bersikap istiqomah agar kelak menjadi pribadi tangguh yang tidak plin plan akan pendiriann dan sikapnya.

Tentang  aqidah Islamiyah, anak-anak dididik dengan ushul iman dan rukun Islam yang lima semampunya dan dengan azzam yang benar.

Islam tidak muncul dalam ruang hampa, tetapi di tengah-tengah kondisi sosial yang penuh pertentangan antarlapisan sosial, kejumudan berpikir dan kekacauan alam pikiran terutama mengenal hubungan individu dan penciptanya. Kondisi seperti itu berdampak pada tingkah laku sehari-hari .

Tujuan pendidikan Islami yaitu tercapainya kesempurnaan insani. Hal ini bisa direalisaikan dengan pendekatan diri kepada Allah dan hubungan terus menerus antara individu dan penciptanya.

Pengajaran dan keteladanan merupakan merupakan methode azazi bagi terbentuknya keutamaan dan akhlak. Prinsip ini terlihat dari perilaku Rasulullah SAW Yang bernilai edukatif akhlaki. Allah memerintahkan meneladaninya , yakni melakukan apa yang diperintahkan dan menjauhi apa yang dilarang.

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah dia, dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” (Q.s. Al- Ahzab, 33:21)

Salah satu inti pendidikan Karakter dalam Islam yaitu mengembangkan manusia yang baik, yaitu manusia yang beribadah dan tunduk pada Allah serta menyucikan diri dari dosa.

Begitulah  seharusnya orang tua mendidik putra-putrinya untuk menghidupkan sunnah nabi SAW dan mengetahui sejarah peperangannya , agar mereka bisa mengambil pelajaran dan nasihat yang akan membentuk kepribadian serta meluruskan sikapnya.

Tentang berakhlak mulia dan bersikap istiqomah, anak-anak dididik  dengan manhaj yang benar, diantaranya:
  • Berhati-hati dengan tasyabbuh(menyerupai orang kafir) dan taqlid buta.
  • Tidak larut dalm kenikmatan
  • Menjauhi permainan yang buruk, berupa nyanyian atau musik yang melenakan untuk mengingat Allah.
  • Tidak kebanci-bancian dan menyerupai wanita.
  • Tidak terbuka auratnya , tabarruj, ikhtilath dan melihat hal-hal yang diharamkan.
  • Tidak mengunjungi tempat yang mengandung  kemungkaran, permainan yang buruk dan menyia-nyiakan waktu.

Baca Terusannya »»  

Selasa, 02 Agustus 2011

BERMAIN DENGAN LIMBAH KERAJINAN TENUN IKAT TROSO Di Sentra Seni dan Kreativitas


A. PENDAHULUAN
Bermain merupakan cara yang paling tepat untuk mengembangkan kemampuan anak PAUD sesuai kompetensinya. Melalui bermain, anak memperoleh dan memproses informasi mengenai hal-hal baru dan berlatih melalui keterampilan yang ada. Bermain disesuaikan dengan perkembangan anak. Permainan yang digunakan di PAUD merupakan permainan yang merangsang kreativitas anak dan menyenangkan. Untuk itu bermain sambil belajar dan belajar sambil bermain merupakan prinsip pokok dalam pembelajaran di PAUD (Depdiknas, 2006). .
Seto Mulyadi (2006) psikolog anak, menjelaskan bahwa anak adalah anak, anak bukan manusia dewasa mini, karena itu metode pembelajaran terhadap anak harus disesuaikan dengan perkembangannya. Dunia anak adalah dunia bermain. Pada dasarnya anak senang sekali belajar, asal dilakukan dengan cara-cara bermain yang menyenangkan.
Menyiapkan lingkungan kegiatan bermain yang bermakna, aman, nyaman dengan pengembangan konsep PAUD serta berbasis pada Karakter Budaya Bangsa  adalah ciri pembelajaran yang berorentasi pada kebutuhan anak untuk mewujudkan PAUD holistic Integratif.
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Holistik-Integratif adalah pengembangan anak usia dini yang dilakukan berdasarkan pemahaman untuk memenuhi kebutuhan esensial anak yang beragam dan saling berkait secara simultan dan sistematis, yang meliputi berbagai aspek pengembangan fisik dan non fisik, agar anak dapat tumbuh kembang sebagai anak yang sehat, kuat, cerdas, ceria, dan berbudi luhur. Pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini secara fisik, mental, emosional, dan sosial dipengaruhi oleh pemeliharaan kesehatan, pemenuhan gizi, pendidikan, stimulasi mental, dan psikososial (Bappenas)
Upaya yang ditempuh oleh Tutor/ Pendidik untuk mewujudkan hal tersebut salah satunya adalah  menciptakan ragam main yang berbasis muatan lokal/kearifan lokal.
Ragam main berbasis kearifan lokal adalah ragam main yang mengajarkan peserta didik untuk selalu dekat dengan situasi konkrit yang mereka hadapi sehari-hari. Ragam main berbasis kearifan lokal merupakan sebuah contoh ragam main yang mempunyai relevansi tinggi bagi kecakapan pengembangan hidup, dengan berpijak pada pemberdayaan ketrampilan serta potensi lokal pada tiap-tiap daerah.
Keunggulan lokal adalah segala sesuatu yang merupakan ciri khas kedaerahan yang mencakup aspek ekonomi, budaya, teknologi informasi dan komunikasi, ekologi, dan lain-lain. Salah satu sumber mengatakan bahwa Keunggulan lokal adalah hasil bumi, kreasi seni, tradisi, budaya, pelayanan, jasa, sumber daya alam, sumber daya manusia atau lainnya yang menjadi keunggulan suatu daerah (Dedidwitagama,2007). Dari kedua pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa Keunggulan Lokal (KL) adalah suatu proses dan realisasi peningkatan nilai dari suatu potensi daerah sehingga menjadi produk/jasa atau karya lain yang bernilai tinggi, bersifat unik dan memiliki keunggulan komparatif.
Di Jepara terdapat beberapa sentra industri kerajinan yang merupakan Keunggulan Lokal dan  tradisi turun temurun dari peninggalan nenek moyang yang tetap lestari sampai sekarang. Jepara dikenal sebagai Kota ukir, karena terdapat sentra kerajinan ukiran kayu, ketenarannya hingga ke luar negeri. Kerajinan mebel dan ukir ini tersebar merata hampir di seluruh kecamatan dengan keahlian masing-masing. Namun sentra perdagangannya terlekat di wilayah Ngabul, Senenan, Tahunan, Pekeng, Kalongan dan Jalan Pemuda. Selain itu, Jepara merupakan kota kelahiran pahlawan wanita Indonesia R.A. Kartini.
Potensi Kabupaten Jepara antara lain:
  • Industri Mebel Ukir Jepara. Industri ini tersebar luas di hampir semua kecamatan Jepara, kecuali Kecamatan Karimun Jawa
  • Kerajinan Patung & Ukiran. Sentra Kerajinan ini terdapat di desa Mulyoharjo Jepara. Di sana terdapat lebih dari 90 pengusaha di bidang kerajinan Patung dan Ukiran
  • Kerajinan Relief.Sentra. Kerajinan ini terdapat di Desa Senenan, dekat Rumah Sakit Kartini Senenan Jepara.
  • Mebel & Kerajinan Rotan. Kerajinan rotan ini tersentra di Desa Teluk Sidi Jepara.
  • Tenun Ikat Troso (sarung, sprei, korden, bahan baju terbuat deri sutra dan katun). Sentra Tenun ini tersentra di daerah Troso, Pecangaan, Jepara.
  • Kerajinan Monel di Kriyan, Kalinyamatan, Jepara.
  • Kerajinan Gerabah Mayong
  • pariwisata
Industri Mebel dan Kerajinan merupakan industri andalan kabupaten Jepara. Industri tersebut telah menjadi tulang punggung perekonomian Jepara. Jepara juga memiliki banyak objek pariwisata menarik yang dapat dikembangkan lebih baik lagi, diantaranya Pantai Kartini, Bandengan dan Karimun Jawa. Karena keterbatasan APBD yang ada, maka pengembangan pun belum optimal. Selain itu, yang saat ini menarik adalah wisata budaya dan wisata industri. Industri mebel / ukir jepara, tenun ikat Troso yang berbasis HOME INDUSTRI dan merupakan kerajinan tangan yang dikembangkan menjadi wisata industri, wisata belanja produk kerajinan Jepara.
Sebagai PAUD yang lahir dan berada di tengah-tengah masyarakat industri kerajinan tenun ikat Troso, KB "Matholi’ul Huda" tidak lepas dari pengaruh budaya,  tradisi dan sumber daya masyarakatnya yang berprofesi sebagai pengrajin tenun. Tentu saja dampak yang ditimbulkan juga berimbas pada kelestarian alam lingkungan sekitar, terutama dampak hasil industri berupa sisa/limbah non organik, misalnya: sisa- sisa benang, ondol, plastik, karet slop, kaleng bahan pewarna (wenter), besi, bendrat dan bekas perangkat alat ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) lainnya.
Oleh karena itu terbesit keinginan penulis untuk ikut sedikit mengurangi dampak buruk pencemaran tersebut, dengan cara memanfaatkan sebagian limbah menjadi alat permainan edukatif sebagai ragam main atau sumber belajar di PAUD untuk beberapa bidang pengembangan.
Ada tiga ragam main yang kami buat, masing-masing mempunyai keunikan sendiri-sendiri sebagai sumber belajar, yaitu:
1.      Permainan menyolet/ membatik


Menyolet adalah suatu proses memberi motif pada tenun ikat dengan cara mengikat kain atau benang dengan rafia mengikuti pola yang sudah dibuat sebelumnya. Biasanya dilakukan sebelum proses pemberian warna keseluruhan ( MENTER) .
Untuk mengenalkan profesi ini pada anak, penulis membuat ragam main menggunakan kain sutera sisa sortiran/adanan atau BS sebagai media untuk membatik atau menyolet menjadi motif jimpitan.
2.      Menenun/ menganyam benang menjadi kain

Proses ini dilakukan untuk menghasilkan kain ikat, biasanya menggunakan berbagai macam benang tergantung jenis yang diinginkan pasar maupun tujuan penggunaannya. misalnya: katun, sutra, mercereised, ondol,filamen, nilon dan lain-lain.
Dalam ragam main ini penulis menggunakan media papan kayu ringan dan paku pengait yang dibengkokkan serta menggunakan benang sisa yang biasanya terbuang begitu saja.
3.      Membuat  Rok untuk Boneka Benang Limbah



Boneka ini terbuat dari sisa benang katun ondol yang biasanya digunakan sebagai bahan dasar cover bed, bantalan/jok, tas, jaket dan aneka produk kerajinan tangan.
Penulis sengaja menampilkan ragam main  yang diadaptasi dari tradisi bermain golek pada masa lalu yang akhir-akhir ini terlupakan karena tergeser oleh mainan buatan pabrik yang mudah didapat dengan berbagai model menarik(yang kemudian melahirkan budaya konsumtif di kalangan anak-anak).
Boneka  benang ini bisa dibuat dengan cara mengikat sekumpulan benang limbah/ sisa dengan benang kasur, kemudian dibagi menjadi beberapa bagian seperti: kepala, badan, tangan dan kaki dengan cara diikat pula. Untuk mendapatkan boneka yang kuat, maka bagian kepala, badan, tangan dan kaki diberi kapas bagian dalamnya.
Dalam ragam main ini anak membuatkan rok untuk boneka dengan teknik menggunting bahan/kain sisa sortiran yang sudah dipola dengan kapur atau spidol oleh guru, dan menempel manik-manik sebagai penghias rok serta memakaikannya.
B. TUJUAN
Pada dasarnya ketiga ragam main ini bertujuan untuk menanamkan kepada anak tentang kepedulian terhadap  pelestarian budaya bangsa, kesehatan dan  keselamatan serta kelestarian alam  lingkungan dengan memanfaatkan limbah/sisa industri kerajinan tenun ikat Troso, serta mencegah pola hidup konsumtif dalam pengadaan sumber belajar berupa alat permainan edukatif dari limbah. Selain itu pembuatan ragam  Permainan   ini juga sebagai sarana untuk menggali potensi dan kreativitas pendidik di KB "Matholi’ul Huda"  Troso.
Sebagai seorang GURU/ TUTOR yang merupakan model, motivator dan fasilitator   selalu dituntut kematangan yang mempersyaratkan Willingnes And Ability sehingga proses belajar jadi bermakna.
Ketiga Ragam Main  ini diaplikasikan dengan model pembelajaran Sentra Bermain aktif yang berisi berbagai variasi kegiatan bermain seraya belajar yang merupakan ciri dari kelas berpusat pada anak ( Child Oriented) dandimodifikasi sesuai dengan perkembangan anak (Developmentally Appropriate Practice = DAP) serta berbasis pada Kecerdasan Jamak (Muiltiple Intelligent).
1. Pengembangan Moral dan Nilai Agama
Anak belajar sabar menunggu giliran dan mengikuti aturan permainan serta berdo’a ketika hendak memulai dan mengakhiri kegiatan.
2. Pengembangan Sosial Emosional
Meliputi pengembangan Perasaan dan Emosi serta pengembangan Kemampuan Sosial / Sosialisasi. Anak mampu bertenggang rasa, saling tolong menolong dalam penbuatan rok boneka, menenun maupun menyolet bersama teman, seolah-olah hidup dalam dunia nyata.
Pengembangan ini mengarah pada pencapaian Kecerdasan Intrapersonal, Kecerdasan Interpersonal dan Naturalistik.
3. Pengembangan Bahasa
Meliputi pengembangan Bahasa agar anak mampu berkomunikasi secara aktif dan pasif dengan lingkungan. Di dalam pembuatan rok, membatik maupun menenun dapat bekerja sama memecahkan masalah. Misalnya ketika menemui kesulitan memasukkan pakan ke lusi, menyambung benang, menentukan pilihan warna dalam membatik, menentukan motif, memberi asesoris/ manik-manik pada rok dan lain-lain.
Anak juga bisa melakukan 2-3 perintah, memahami kata dan kalimat sederhana, misalnya: ”Tolong ambilkan kain itu ” dalam permainan membatik.
Pengembangan Bahasa mengarah pada pencapaian Kecerdasan Linguistik.
4.      Pengembangan Kognitif
Meliputi pengembangan Matematika Permulaan dan Sains Permulaan. Pengembangan ini mengarah pada pencapaian Kecerdasan Logika Matematika dan Kecerdasan Visual Spatial. Anak bermain mencelup kain pada pewarna, mengkombinasikan warna adalah memainkan konsep sains secara sederhana.
Mengestimasi berapa jumlah ikatan / menghitung ikatan yang akan diwarna, memasukkan benang pakan ke benang lusi  dalam menenun/ menganyam juga memerlukan kecerdasan logis matematis serta membangun imajinasi.
 5.  Pengembangan Seni
Meliputi pengembangan  seni keterampilan, membuat karya kreatif (kerajinan tangan): Membatik, menganyam dan ketrampilan membuat rok Boneka Benang.
Pengembangan Seni mengarah pada pencapaian Kecerdasan Musikal dan Visual Spatial.
6. Pengembangan Fisik
Meliputi pengembangan Motorik Halus (fine motor) dan Motorik Kasar (gross motor) untuk pertumbuhan dan kesehatan anak.Ketiga ragam main ini mengandung unsur gerakan- gerakan yang merangsang perkembangan motorik halus anak. Mulai dari Membatik/ menyolet, menenun/ menganyam benang, dan membuat rok boneka benang.
Sedang motorik kasar  dicapai dalam aturan main, yaitu ketika anak pindah bergantian main, dan saat kegiatan awal/ olah tubuh menuju ke sentra, sambil menyanyi.
Pengembangan Fisik mengarah pada pencapaian Kecerdasan Body Kinestetik
Anak juga belajar memenuhi kebutuhan  dirinya sendiri akan pentingnya      menjaga kesehatan seperti mencuci tangan dan mengelap sampai bersih serta pemenuhan asupan gizi yang diperlukan tubuh dalam kegiatan makan bersama waktu istirahat, guna memenuhi semua kebutuhan dasar anak (fisik, mental, emosional, dan sosial) agar dapat bertumbuh dan berkembang optimal sesuai potensi yang dimilikinya.
C. SASARAN
Salah satu tugas yang paling sulit bagi guru Anak Usia Dini adalah ketika mereka harus merencanakan, mendesain,dan memberikan pengaturan pusat sumber belajar yang sesuai dengan kurikulum yang tepat untuk tingkat kemampuan menurut sasaran usia anak. Hal ini tentunya sangat berhubungan dengan pembelajaran yang berpusat pada anak.
 Sedang ragam main hasil pemikiran  dan kreatifitas penulis ini ditujukan untuk anak usia 5-6 tahun.
D. ALAT DAN BAHAN
Hampir 95% alat ragam main ini menggunkan limbah industri kerajianan tenun ikat Troso, yaitu:
  1. Gunting
  2. Cutter
  3. selotip bolak-balik
  4. Lem bakar
  5. Lem kayu
  6. Jarum
  7. Cat poster
  8. Cat minyak
  9. Benang sisa/ limbah
  10. Kyu bekas/ sisa reng
  11. paku sebagai pengait benang
  12. Limbah tusuk sate
  13. kapas/kapuk,dakron
  14. kain perca
  15. Pewarna makanan
  16. Air
  17. Mangkok
  18. tali rafia
  19. Manik-manik
E. CARA MEMAINKAN
Pada pijakan sebelum main (pijakan lingkungan), guru menyiapkan dan menempatkan bahan-bahan yang cukup , yaitu tiga ragam main yang telah dibuat tadi, dengan tempat yang cukup pula.
Guru membacakan buku yang berkaitan dengan pengalaman dan menggabungkan kosakata baru  dan menunjukkan konsep-konsep yang mendukung standar kinerja, memberikan gagasan bagaimana menggunakan bahan-bahan, mendiskusikan aturan dan harapan, menetapkan waktu dan mengelola anak untuk keberhasilan hubungan sosial.
Guru membagi anak kedalam kelompok kecil dan memberi kesempatan memilih pada setiap anak ragam main apa yang akan dimainkan lebih dulu, kemudian bergantian sesuai aturan.
Cara memainkannya sebagai berikut:
1.Menyolet/ membatik
  • Guru menyiapkan kain yang sudah dijimpit dan diikat sesuai pola
  • Menyiapkan wenter, pewarna dalm mangkuk-mangkuk kecil
  • Anak menyolet pada bagian yang tidak dijimpit dan ditali rafia  dengan warna yang disukai secara selang – seling atau mencampur dengan warna lain untuk menemukan warna baru.
  • Peras bahan/ kain yang dicolet hingga tuntas
  • Setelah  selesai buka ikatan
  • Kain sudah terbatik / termotif dengan indah.
2. Menenun/ menganyam Benang
  • Guru menyiapkan bidang dari kayu ringan yang telah dililiti benang melalui paku penyemat (bahan lusi)
  • Guru memberi contoh cara menganyam dengan cara mengerjakan sebagian kecil dari bidang hingga garis-garis pola anyaman terbentuk
  • Guru menyiapkan bahan pakan dengan cara menyematkan pada pangkal tusuk sate agar anak dengan mudah memasukkan pada lusi.
  • Anak meniru pola anyaman sederhana yang dicontohkan guru hingga tercipta potongan kain yang berupa anyaman benang.
3. Membuat Rok Boneka Benang
  • Guru menyiapkan Boneka Benang yang sudah di buat
  • Anak menggunting bahan dengan mengikuti pola yang dibuat guru
  • Anak memasang manik-manik sebagai aksesoris dengan cara menempel
  • Anak memakaikan rok pada boneka.
Guru mengamati dan mencatat semua aktifitas anak pada setiap  ragam main, kemudian mengambil kesimpulan dan penilaian.




Hasil coletan kain sutera limbah

tenunan benang limbah

Boneka benang ondol


Baca Terusannya »»  

Kamis, 14 April 2011

BOCORAN KUNCI JAWABAN UJIAN NASIONAL 2011

Perhelatan akbar Ujian nasional menyisakan waktu beberapa jam lagi. Integritas bangsa kita, kembali akan diuji. Ujian Nasional yang akan dilaksanakan setiap tahun ini adalah buah pemikiran pejabat-pejabat pendidikan yang bekerja keras memajukan pendidikan nasional. Konsep utamanya tentu saja menaikkan kualitas pendidikan dengan tolak ukur ujian berstandar nasional.
Baca Terusannya »»  

Jumat, 08 April 2011

Sejarah Hari Bumi

Sejarah hari bumi atau Earth Day yang diperingati setiap tanggal 22 April telah banyak yang tahu. Banyak yang telah menuliskan sejarah awal mula Hari Bumi (Earth Day). Namun untuk menyambut peringatan Hari Bumi yang sebentar lagi tiba tidak ada salahnya Alamendah’s Blog kembali mengulas sejarah itu.

Sebagai mana diketahui, sejarah peringatan Hari Bumi (Earth Day) diselenggarakan pertama kali pada 22 April 1970 di Amerika Serikat. Penggagasnya adalah Gaylord Nelson, seorang senator Amerika Serikat dari Wisconsin yang juga pengajar lingkungan hidup.

Gagasan tentang peringatan Hari Bumi mulai disampaikan oleh Gaylord Nelson sejak tahun 1969. Saat itu Gaylord Nelson memandang perlunya isu-isu lingkungan hidup untuk masuk dalam kurikulum resmi perguruan tinggi. Gagasan ini kemudian mendapat dukungan luas.
Gaylord Nelson

Gaylord Nelson, pencetus Hari Bumi

Dukungan ini mencapai puncaknya pada tanggal 22 April 1970. Saat itu sejarah mencatat jutaan orang turun ke jalan, berdemonstrasi dan memadati Fifth Avenue di New York untuk mengecam para perusak bumi. Majalah TIME memperkirakan bahwa sekitar 20 juta manusia turun ke jalan pada 22 April 1970.

Moment ini kemudian menjadi tonggak sejarah diperingatinya sebagai Hari Bumi yang pertama kali. Tanggal 22 April juga bertepatan dengan musim semi di Northern Hemisphere (belahan bumi utara) sekaligus musim gugur di belahan bumi selatan. Sejak itu, pada tanggal 22 April setiap tahunnya Hari Bumi (Earth Day) diperingati.

Sejarah mencatat, Hari Bumi merupakan kampanye untuk mengajak orang peduli terhadap lingkungan hidup. Gerakan untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi terhadap planet yang ditinggali manusia ini yaitu bumi. Hari Bumi telah menjadi sebuah gerakan global yang mendunia hingga kini. Pelaksanaannya di seluruh dunia dikordinasi oleh Earth Day Network’s, sebuah organisasi nirlaba beraggotakan berbagai LSM di seluruh dunia.

PBB sendiri memilih tanggal 20 Maret saat di mana matahari tepat diatas khatulistiwa sebagai peringatan Hari Bumi. Ini mengacu pada ide “hari bagi orang-orang Bumi” yang dicetuskan aktivis perdamaian John McConnell. Hari yang lebih dikenal sebagai “Hari Bumi Equinoks” ini diperingati PBB setiap tahunnya sejak 21 Maret 1971. Namun PBB juga mengakui tanggal 22 April sebagai hari bumi yang dilaksanakan secara global. PBB secara resmi merayakannya 22 April sebagai “International Mother Earth Day“.

Berdasarkan sejarah lahirnya Hari Bumi ini, tidak ada salahnya jika Alamendah latah ikutan mendukung penyelenggaraan Hari Bumi. Meskipun Alamendah sadar bahwa untuk menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan hidup tidak harus menunggu datangnya tanggal 22 April.

Referensi dan gambar:

*
earthday.envirolink.org/history.html
*
www.earthday.org
*
www.earthsocietyfoundation.org
*
www.history.com/topics/earth-day
*
commons.wikimedia.org (gambar)

Sejarah hari bumi atau Earth Day yang diperingati setiap tanggal 22 April telah banyak yang tahu. Banyak yang telah menuliskan sejarah awal mula Hari Bumi (Earth Day). Namun untuk menyambut peringatan Hari Bumi yang sebentar lagi tiba tidak ada salahnya Alamendah’s Blog kembali mengulas sejarah itu.
Sebagai mana diketahui, sejarah peringatan Hari Bumi (Earth Day) diselenggarakan pertama kali pada 22 April 1970 di Amerika Serikat. Penggagasnya adalah Gaylord Nelson, seorang senator Amerika Serikat dari Wisconsin yang juga pengajar lingkungan hidup.
Gagasan tentang peringatan Hari Bumi mulai disampaikan oleh Gaylord Nelson sejak tahun 1969. Saat itu Gaylord Nelson memandang perlunya isu-isu lingkungan hidup untuk masuk dalam kurikulum resmi perguruan tinggi. Gagasan ini kemudian mendapat dukungan luas.
Gaylord Nelson
Gaylord Nelson, pencetus Hari Bumi
Dukungan ini mencapai puncaknya pada tanggal 22 April 1970. Saat itu sejarah mencatat jutaan orang turun ke jalan, berdemonstrasi dan memadati Fifth Avenue di New York untuk mengecam para perusak bumi. Majalah TIME memperkirakan bahwa sekitar 20 juta manusia turun ke jalan pada 22 April 1970.
Moment ini kemudian menjadi tonggak sejarah diperingatinya sebagai Hari Bumi yang pertama kali. Tanggal 22 April juga bertepatan dengan musim semi di Northern Hemisphere (belahan bumi utara) sekaligus musim gugur di belahan bumi selatan. Sejak itu, pada tanggal 22 April setiap tahunnya Hari Bumi (Earth Day) diperingati.
Sejarah mencatat, Hari Bumi merupakan kampanye untuk mengajak orang peduli terhadap lingkungan hidup. Gerakan untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi terhadap planet yang ditinggali manusia ini yaitu bumi. Hari Bumi telah menjadi sebuah gerakan global yang mendunia hingga kini. Pelaksanaannya di seluruh dunia dikordinasi oleh Earth Day Network’s, sebuah organisasi nirlaba beraggotakan berbagai LSM di seluruh dunia.
PBB sendiri memilih tanggal 20 Maret saat di mana matahari tepat diatas khatulistiwa sebagai peringatan Hari Bumi. Ini mengacu pada ide “hari bagi orang-orang Bumi” yang dicetuskan aktivis perdamaian John McConnell. Hari yang lebih dikenal sebagai “Hari Bumi Equinoks” ini diperingati PBB setiap tahunnya sejak 21 Maret 1971. Namun PBB juga mengakui tanggal 22 April sebagai hari bumi yang dilaksanakan secara global. PBB secara resmi merayakannya 22 April sebagai “International Mother Earth Day“.
Berdasarkan sejarah lahirnya Hari Bumi ini, tidak ada salahnya jika Alamendah latah ikutan mendukung penyelenggaraan Hari Bumi. Meskipun Alamendah sadar bahwa untuk menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan hidup tidak harus menunggu datangnya tanggal 22 April.
Referensi dan gambar:
  • earthday.envirolink.org/history.html
  • www.earthday.org
  • www.earthsocietyfoundation.org
  • www.history.com/topics/earth-day
  • commons.wikimedia.org (gambar)
    Ditulis oleh: Alamendah
Baca Terusannya »»  

Selasa, 22 Maret 2011

Metode yang Digunakan pada Pengembangan Kognitif

I. Pendahuluan

Pendidikan merupakan masalah yang cukup kompleks dalam kehidupan kita. Aspek ini selalu ada dan semakin hari kebutuhan akan hal ini semakin berkembang sejalan perkembangan zaman. Pendidikan merupakan salah satu fasilitas kita sebagai manusia dan pendidik untuk merangsang serta menstimulasi kemampuan kognitif pada anak didik.Begitu besarnya peran kognitif dalam perkembangan hidup yang akan datang,maka banyak metode yang dikembangkan sebagai cara mentranSfer ilmu yang tepat sesuai dengan usianya sehingga menghasilkan pemahaman yang maksimal bagi anak didik.

Pendidikan pada usia dini pada dasarnya meliputi seluruh upaya dan tindakan yang dilakukan oleh pendidik dan orang tua dalam proses perawatan, pengasuhan dan pendidikan pada anak dengan menciptakan aura dan lingkungan dimana anak dapat mengeksplorasi pengalaman yang memberikan kesempatan kepadanya untuk mengetahui pengalaman belajar yang diperohlehnya dari lingkungan,melalui cara mengamati, meniru dan bereksperimen yang berlangsung secara berulang-ulang dan melibatkan seluruh potensi dan kecerdasan anak.

Salah satu cara anak agar proses belajar mereka memperoleh pengetahuan adalah melalui kegiatan bermain sambil belajar.Dengan bermain dan belajar, seorang anak dapat memperoleh kesempatan untuk mempelajari berbagai hal baru.Bemain dan belajar bagi mereka juga merupakan sarana dalam mengembangkan berbagai ketrampilan sosialnya.Kegiatan bermain dan belajar akan mengembangkan otot dan melatih gerakan motorik mereka di dalam menyalurkan energi mereka yang berlebih. Dengan demikian seorang anak akan menemukan bahwa merancang suatu hal baru dan berbeda dapat menimbulkan kepuasan dan pada akhirnya anak akan menjadi lebih kreatif dan inovatif.

Vygotsky dalam Naughton ( 2003;46 ) percaya bahwa bermain membantu perkembangan kognitif anak secara langsung, tidak sekedar sebagai hasil pengembangan kognitif seperti yang dikemukakan oleh Piaget.

Peranan guru sebagai orang terdekat anak di sekolah harus bisa menciptakan suasana yang menyenangkan dan menjadi pribadi yang disukai anak. Peran guru sebagai teman, model, motivator dan fasilitator akan menjadikan anak senang datang ke sekolah dan menjadikan proses belajar jadi bermakna. Oleh karena itu dituntut kematangan yang mempersyaratkan willingnes and ability, baik secara intelektual maupun pada kondisi yang prima.Profesionalisasi seperti ini harus dipandang sebagai proses yang terus menerus.

Sedangkan metode merupakan bagian strategi kegiatan. Setiap guru PAUD ,TK/RA menggunakan metode sesuai dengan tujuan yang akan dicapai.

Sebagai alat untuk mencapai tujuan tidak selamanya metode berfungsi secara optimal.Di dalam memilih metode, guru PAUD, TK/RA perlu memiliki alasan yang kuat dan perlu memperhatikan karaterstik tujuan dan karateristik anak yang dibinanya.

Sesuai dengan karakteristik, tidak semua metode mengajar sesuai dan cocok digunakan pada program kegiatan anak di PAUD, TK/RA,seperti metode ceramah, kurang cocok karena menuntut anak memusatkan perhatian dalam waktu cukup lama, padahal rentang waktu perhatian anak relatif singkat.

Metode yang dapat digunakan dalam pengembangan kognitif di PAUD, TK/RA, adalah: Bermain, pemberian tugas, demonstrasi, tanya jawab, mengucapkan syair, percobaan/eksperimen,bercerita,karyawisata dan dramatisasi.

Karena merupakan rangkaian proses pengembangan kognitif anak, maka evaluasi harus dilakukan. Evaluasi diadakan dengan tujuan yang didasarkan pada penghargaan (ukuran keberhasilan) setiap individu yang berbeda sehingga evaluasi harus dilakukan berdasarkan ukuran keberhasilan yang berbeda pula.Melalui evaluasi dapat ditentukan tingkat ketercapaian tujuan.

II. Permasalahan

Salah satu tugas yang cukup sulit bagi guru PAUD,TK/RA adalah ketika harus merencanakan, mendisain dan mengadakan pusat sumber belajar yang sesuai dengan metode pengembangan kognitif yang tepat untuk tingkat kemampuan anak-anak yang berbeda dalam satu kelas.Hal ini tentunya sangat berhubungan pada pembelajaran yang berpusat pada anak.

Kenyataan di lapangan tidak semua guru mempunyai pemahaman yang sama dalam menginterpretasikan metode pengembangan kognitif pada AUD.Dimana strategi yang diberikan bersifat monoton.

Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah dalam makalah ini dirumaskan sebagai berikut :

Bagaimana mengembangkan kognitif anak di PAUD, TK/RA menurut pendapat Vigotsky?
Metode apakah yang dapat digunakan untuk pengembangan kognitif anak TK/RA.
Mengapa strategi kegiatan di TK/RA diarahkan untuk lebih menekankan aktivitas anak didik dibandingkan aktivitas guru.
Komponen apa yang harus ada dalam melaksanakan evaluasi keberhasilan anak didik, terutama dalam pengembangan kocnitif.

III. Pembahasan

A.TUJUAN DAN MACAM-MACAM PENGEMBANGAN KOGNITIF

PENDAPAT VYGOTSKY

Lev Vygotsky dikenal sebagai a socialcultural constructivist asal Rusia.Vygotsky dalam Brodova dan Deborah (1996;23) berpendapat bahwa pengetahuan tidak diperoleh dengan cara dialihkan dari orang lain, melainkan merupakan sesuatu yang dibangun dan diciptakan oleh anak.Vygotsky yakin bahwa belajar merupakan suatu proses yang tidak dapat dipaksa dari luar karena anak adalah pembelajar aktif dan memiliki struktur psikolgis yang mengendalikan perilaku belajarnya.

Selanjutnya melalui teori revolusi sosio kulturnya, Vygotsky mengemukakan bahwa manusia memiliki alat berpikir (tool of mind) yang dapat dipergunakan untuk membantu memecahkan masalah, memudahkan dalam melakukan tindakan, memperluas kemampuan, melakukan sesuatu sesuai kapasitas alami (Brodova dan Deborah,1996;26). Vygotsky mengemukakan beberapa kegunaan dari alat berpikir manusia yaitu:

Membantu memecahkan masalah, seseorang akan mampu mencari jalan keluar terhadap masalah yang dihadapinya. Anak-anak akan mencoba memecahkan masalah dalam permainan yang sedang dikerjakan(mencari jejak).
Memudahkan dalam melakukan tindakan, dengan alat berpikirnya setiap individu akan dapat memilih tindakan atau perbuatan seefektif dan seefisien mungkin dalam mencapai tujuan itu adalah cerminan dari berfungsinya alat berfikir.
Memperluas kemampuan,melalui berbagai eksplorasi yang dilakukan seorang anak melalui panca inderanya, maka akan semakin banyak hal yang akan ia ketahui.
Melakukan sesuatu sesuai dengan kapasitas alaminya, alat berpikir berkembang secara alami, mengikuti apa yang terjadi di sekitarnya. Semakin banyak stimulasi yang diperoleh anak saat berinteraksi dengan lingkungan, maka akan semakin cepat berkembang fungsi pikirnya.

Prinsip dasar dari Vygotsky adalah bahwa anak melakukan proses ko-konstruksi membangun berbagai pengetahuannya tidk dapat dipisahkan dari konteks sosial dimana anak tersebut berada. Pengetahuan juga berasal dari lingkungan budaya. Pengetahuan yang berasal dari budaya biasanya didapatkan secara turun temurun melalui orang-orang yang berada di sekitar. Pengetahuan dibangun oleh anak berdasarkan kemampuannya memahami perbedaan berdasarkan kesamaan yang tampak.

Vygotskly mengatakan bahwa jalan pikiran seseorang terus dimengerti dari latar sosial budaya dan sejarahnya yaitu pada asal- usul tindakan sadarnya dan dari iteraksi sosial yang dilatari oleh sejarah hidupnya. Manusia sebagai makhluk individu mempunyai alat berpikir yang tidak dimiliki oleh mahluk hidup lain.

Peningkatan kualitas kognitif berasal dari kehidupan sosialnya, bukan sekedar dari individu itu sendiri. Teori Vygotsky lebih tepat dsebut sebagai pendekatan ko-konstruktivisme yaitu suatu proses membangun pengetahuan baru secara bersma-sama antara semua pihak yang terlibat di dalamnya.

Vygotsky percaya bahwa kognitif tertinggi yang berkembangsat anak berada di sekolah yaitu saat terjadinya interaksi antara anak dan guru. Pengetahuan yang diberikan secara terpaksa akan memberikan dampak yang berharga bagi anak.

Menurut Vygotsky, bantuan eksternal yang diberikan guru dapat dihilangkan apabila anak tampak telah berkembang secara konsisten.Bntuan dapat diberikan saat anak beraktivitas atau mengerjakan tugas, seperti:

1. Memotivasi atau mendapatkan minat anak yang berhubungan dengan tugas.

2. Mempermudah tugas agar anak-anak mudah mengatur dan menyelesaikannya.

3. Mmberikan beberapa arahan dengan tujuan membantu agar anak fokus dalam mencapai tujuannya.

4. Secara jelas menunjukkan perbedaan antara pekerjaan anak –anak dengan standar atau penyelesaian yang diinginkan guru.

5. Memberi contoh dengan jelas serta menetapkan harapan dari aktivitas yang ditampilkan (stuyf,2007;3-5).

Terdapat perbedaan Vygotsky dengan Piaget, wlaupun mereka berdua sama-sama menekankan/menfokuskan pada peran bahasa dan pengalaman bersosialisasi dalam perkembangan kognitif anak.Berkaitan dengan perkembangan kognitif melalui pengalaman bersosialisasi ,Vygotsky menekankan pada kemampuan bahasa terutama pada kecepatan berbicara. Sedangkan Piaget lebih menekankan pada eksplorasi sensomotor bayi.

Vygotsky memandang bermain sebagai kegiatan sosal. Pada awalnya anak- anak bermain secara solitary(secara sendiri-sendiri), seiring dengan kematangan kognitif anak dan berkurangnya egosentris,permainan anak lebih sosial.

IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN VYGOTSKY

Kebiatan pembelajaran berdasarkan teori belejar Vygotsky antara lain:

Menyusun balok

Diharapkan anak dapat membangun imajinasinya tentang bentuk dan ruang memanipulasi bangunan dari balok-balok yang telah tersedia.

Menyampaikan cerita

Menyampaikan cerita biasanya memberikan keuntungan dalam

Mengembangkan bahasa dan kreativitas.Vygotsky juga menggunakan hal itu untuk mendorong ketajaman ingatan, berpikir logis dan pengendalian diri.

Permainan dramatik

Merupakan kegiatan mengungkapkan seluruh fungsi mental tinggi,pengendalian diri dan berbagai permainan simbolik.

Penulisan jurnal

Anak melakukan komunikasi dengan orang lain melalui berbagai ungkapan secara tertulis.

Berikut ini adalah contoh pemilihan metode dihubungkan dengan karakteristik tujuan. Metode yang dapat mengembangkan kognitif anak agar dapat berpikir, menalar,mampu menarik kesimpulan dan membuat generalisasi. Caranya adalah dengan mengenali alam sekitarnya, mengenal orang dan benda-benda yang ada,mengenal tubuh tubuh dan memahami perasaan mereka sendiri dan berlatih mengurus diri mereka sendiri. Selain itu melatih anak menggunakan bahasa untuk berhubungan dengan orang lain, dan melakukan apa yang dianggap benar berdasarkan nilai yang ada dalam masyarakat (Hilderbrand,1986).

Untuk pengembanganbahasa anak dapat menggunakan metode yang dapat meningkatkan perkembangan kemampuan berbbicara, mendengar,membaca dan menulis.Kita dapat memberikan kesempatan pada anak didik untuk memperoleh pengalaman yang luas dalam mendengarkan dan berbicara.

Untuk mengembangkan kemampuan sosial,emosional anak dapat menggunakan metode yang menggerakkan anak untuk mengekspresikan perasaan yang menyenangkan dan tidak menyenangkan ecara verbal dan tepat.

Pengembangan fisik anak dapat dikembangkan melalui metode-metode yang dapat menjamin anak tidak cedera. Oleh karena itu guru perlu menciptakan lingkungan yang aman dan menantang (Gordon dan Browne,1985).Bahan dan alat yang digunakan dalam keadaan baik,tidak menimbulkan perasaan takut dan cemas dalam menggunakannya.

Sedangkan untuk pengembangan moral dan nilai-nilai agama dapat menggunakan metode-metode yang memungkinkan terbentuknya kebiasaan-kebiasaan yang didasari oleh nilai-nilai agama, sehingga anak dapat hidup sesua dengan ajaran agama yang dianutnya. Pengalaman belajar yang dapat diberikan adalah dengan memungkinkan terbentuknya kebiasaan kerja, menghargai waktu, kejujuran, kasih sayang dan kebiasaan memelihara lingkungan.

Selain dari karakteristik tujuan yang telah disebutkan, karakteristik anak juga menentukan pemilihan metode. Perlu kta cermati bahwa anak AUD pada umumnya adalah anak yangselalu bergerak, mempunyai rasa ingin tahu yang kuat, senang bereksperimen dan keinginan mengekspresikan diri secara kreatif, mempunyai imajinasi dan senang berbicar.

Vigotsky mengatakan manusia dilahirkan dengan seperangkat fungsi kognitif dasar yakni kemampuan memperhatikan, mengamati dan mengingat (Dworetsky, 1990).Kebudayaan akan mentranformasikan kemampuan tersebut dalam bentuk fungsi kognitif yang lebih tinggi yterutama dengan mengadakan hubungan masyarakat dan melalui proses pembelajaran serta penggunaan bahasa. Hal ini sejalan dengan pendapat Guilford (Hildebrand,dalam Moeslihatoen,1996) untuk membantu pengembangan kognitif, anak perlu dibekali pengalaman belajar yang dirancang melalui kegiatan observasi dan mendengarkan dengan tepat.

Macam-macam metode pengembangan kognitif yang dapat digunakan untuk pengembangan kognitif di PAUD, TK/RA.

1.Bermain

Bermain adalah kegiatan yang ank-anak lakukan sepanjang hari karena bagi anakbermain adalah hidup dan hidup adalah permainan (Mayesty,1990;196-197). Anak usia dini tidak membedakan bermain,belajar dan bekerja. Anak-anak umumnya sangat menikmati permainan dan akan terus melakukannya dimanapu mereka memiliki kesempatan.

Piaget dalam Mayesty(1990;42)mengatakan bermain adalah suatu kegiatan yang dilakukan berulang-ulang dan menimbulkan kesenangan/kepusan bagi diri seseorang . Sedangkan Parten dalam Dokket an Fleer(2000;14) memandang bahwa kegiatan bermain adalah sarana sosialisasi. Diharapkan dalam bermain memberi kesempatan anak bereksplorasi ,menemukan, mengekspresikan,perasaan, berekreasi dan belajar secara menyenangkan.Selain itu kegiatan bermain dapat membantu anak mengenal tentang diri sendiri, dengan siapa ia hidup serta lingkungan dimana ia hidup.

Bermain pada anak merupakan kegiatan yang dapat disamakan dengan bekerja pada orang dewasa. Bermain memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap pengaruh perkembangan anak.

Menurut Dearden(hetherimgton and Parke,1997;481) bermain merupakan pekerjaan nonserius dan segalanya ada dalam itu sendiri yang memberikan kepuasan pada anak.

Bermain mempunyai makna penting bagi pertumbuhan anak. Frank dan Farida caplan (Hildebrand,1986;55-56) mengemukakan ada enam belas nilai bermain bagi anak:

Bermain membantu pertumbuhan anak
Bermain merupakan kegiatan yang dilakukan secara sukarela.
Bermain memberi kebebasan anak untuk bertindak
Bermain memberikan dunia khayal yang dapat dikuasi
Bermain mempuhyai unsur petualang di dalamnya
Bermain meletakkan perkembangan bahasa
Bermain mempunyai pengaruh yang unik dalam pembentukan pribadi
Bermain memberi kesempatan untuk menguasi diri secara fisik.
Bermain memperluas minat pemusatan perhatian
Bermain merupakan cara anak menyelidiki sesuatu
Belajar merupakan cara anak mempelajari peran orang dewasa
Bermain merupakan cara sinamis untuk belajar
Bermain menjernihkan pertimbangan anak
Bermain dapat distruktur secara akademis
Bermain merupakan kekuatan hidup
Bermain merupakan sesuatu yang essensial bagi kelestarian hidup manusi

2. Metode pemberian tugas

Metode pemberian tugas ialah suatu cara penyajian kegiatan yang telah ditentukan dan anak dapat mempertanggungjawabkan sesuai petunjuk langsung dari guru.Ditinjau dari teori belajar Vygotsky pemberian tugas yang cocok adalah pemberian tugas kelompok, dimana anak bisa bersosialisasi dengan teman sekelompok,mau berbagi, mau bertanya, serta belajar untuk bekerjasama tanpa harus berharap pada kemampuan orang lain atau sebaliknya.

3. Metode demonstrasi

Adalah suatu penyajian kegiatan pembelajaran dengan penjelasan lisan disertai perbuatan atau memperlihatkan suatu proses tertentu yang kemudian diikuti atau dicoba oleh anak didik.Metode demonstrasi juga bisa diartikan suatu cara memperagakan atau mempertunjukkan sesuatu atau proses kejadian atau peristiwa. Guru dituntut mendemonstrasikan sesuatu harus jelas, alat peraga harus dipersiapkan lebih dulu,agar pada saat mendemonstraskantidak terhambat atau terganggu.

Ada dua fungsi dalam metode ini:

1. Dapat digunakan untuk memberikan illustrasi dalam menjelaskan

Informasi pada anak

2. Dapat membantu meningkatkan daya pikir anak TK/RA terutama

Daya pikir dalam meningkatkan kemampuan mengenal,mengingat,

Berpikir konvergen dan evaluatif.

Berpikir konvergen ialah kemampuan menggunakan informasi yang diperoleh dan yang disimpan untuk menerima satu jawaban benar. Contoh anak PAUD,TK/RA sudah mengenal konsep bilangan 2. Informasi ini digunakan untuk menjawab pertanyaan berapa kaki ayam?

Berpikir divergen ialah dari informasi yang diperoleh mencari sesuatu yang baru menemukan jawaban benar.Contoh anak PAUD,TK/RA telah mengetahui konsep bilangan 2. Konsep ini digunakan untuk menjawab pertanyaan: Sebutkan binatang yang memiliki kaki 2 , kemudian dapat menjawab pertanyaan lebih banyak kaki ayam apa sapi?

Sedang berpikir evaluatif artinya adalah anak dapat memberikan kesimpulan,penilaian, penemuan,pemecahan masalah dan berusaha memperbaiki kesalahannya.contoh ucapan anak yang bertanya: “Bu guru, sayapunya kucing yang lucu,bersih dan sehat karna saya selalu rajin memberi makan dan memandikannya.” Ungkapan tersebut dapat diambil kesimpula bahwa dengan makan yang cukupserta menjaga kebersihan dapat hidup bersih dan sehat.

4. Metode tanya jawab

Metode tanya jawab ialah suatu cara penyajian pembelajaran dengan dalam bentuk pertanyaan dari guru yang harus dijawab oleh siswa atau sebaliknya.Guru harus berusaha agar anak aktif memberi jawaban atu keterangan bukan guru yang memberi keterangan.

Metode bercakap-cakap ini sangat bermanfaat bagi anak PAUD,TK/RA sebagai salah satu upaya yang dapat dilakukan guru agar anak berani mengungkapkan pendapat serta berani berbicara di depan umum.Selain itu metode ini mengandung manfaat belajar yaitu mewujudkan kemampuan berbahasa secara reseptif dan ekspresif.

5.Metode mengucapkan syair

Metode mengucapkan syair yaitu suatu cara menyampaikan sesuatu melalui syair yang menarik yang dibuat guru untuk sesuatu, agar dapat dipahami anak.

6. Metode eksperimen/ percobaan

Adalah suatu cara anak melakukan berbagai percobaan yang dapat dilakukan anak sesuai dengan usianya,guru sebagai fasilitator,alat berbagai percobaan sudah dipersiapkan oleh guru. Dalam metode ini anak dapat menemukan sesuatu berdasarkan pengalamannya.

7.Metode bercerita

Metode bercerita adalah cara menyampaikan sesuatu dengan bertutur atau memberikan penerangan atau penjelasan secara lisan melalui cerita.Cerita harus menarik,dengan tujuan yang ingin dicapai,dengan gerak gerik yang wajar dan intonasi yang bervariasi.

8. Metode karya wisata

Usman dan SetiawatI(2001;131) mengemukakan bahwa metode karya wisata adalah suatu cara penyajian pembelajaran dengan membawa anak didiklangsung kepada objek tertentu untuk dipelajari, yang terdapat di luar kelas, dengan bimbingan guru.Metode karya wisata juga bisa diartikan kunjungan langsung ke objek- objek di sekitar anak sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.

Sehubungan dengan teori belajar menurut Vygotsky, metode karya wisata jelas sesuai, karena dengankarya wisata anak belajar bernteraksi dengan orang lain danlingkungan.

9.Dramatisasi

Salah satu metode yang dapat dikembangkan dalam pembelajaran di PAUD,TK/RA adalah bermain peran.

Metode dramatisasi/ bermain peran adalah cara memahami sesuatu melalui peran-peran yangdilakukan oleh tokoh atau benda-benda di sekitar anak, sehingga anak dapat memahami sesuatu sambil berimajinasi.

B. EVALUASI PENGEMBANGAN KOGNITIF

Evaluasi adalah suatu cara untuk mengukur kemajuan, pelaksanaan, keberhasilan dan perkembangan kognitif dan masalahnya yang berkaitan dengan hasil yang diharapkan pada anak.

Evaluasi sebagai bagian dari proses pendidikan, merupakan proses pemantauan dan asesmen terhadap kemajuan da perkembangan anak.Evaluasi adalah analisis sistematis data anak untuk memahami keefektifan suatu program yang diberikan dan untuk mengetahui pengaruh program tersebut terhadap anak.Evaluasi merupakan proses meringkas dan menginterpretasi data serta membuat penilaian profesional berdsarkan informasi yang diperoleh. Evaluasi sifatnya menyeluruh, mencakup pengukuran yang obyektif dan profesonal tentang performansi dan perkembangan anak.

Sedangkan asesmen adalah proses pengumpulan data dan dokumentasi belajar anak dan perkembangan anak. Asesmen harus bersifat otentik, berpusat pada anak dan mengembangkan seluruh aspek fsik, psikis, sosial dan sebagainya.Asesmen dilakukan secara reguler yang merupakan bagian dari pembelajaran kelas.Asesmen dapat digunakan sebagai dasar untuk merencanakan program yang sesuai dengan perkembangan anak.

Proses asesmen dilakukan secara individual dengan cara membandingkan perkembangan anak sat ini dan sebelumnya.Dalam asesmen perlu dipertimbangkan adanya perbedaan dalam perkembangan, pengalaman dan budaya anak.

C. ALAT EVALUASI

Dalam evaluasi pengembangan kognitif anak TK/RA terdapat berbagai macam alat evaluasi yang dapat digunakan, antara lain:

a.observasi

b.catatan anekdot (anecdotal record)

c.kumpulan kerja anak(portofolio)

c.asesmen kinerja

d.asesmen kemampuan(performance assesment)

e.asesmen diri(self assesment)

Berkut adalah contoh kegiatan dan alat evaluasi yang digunakan:

1.Observasi pada saat kegiatan berlangsung

NO


Nama Anak


Mengelompokkan benda sejenis


Mengelompokkan benda yang sama warnanya


Menghitung kepingan bunga


keter

Dibantu


Tanpa dibantu


Dibantu


Tanpa dibantu


Dibantu


Tanpa dibantu

1


Rosy




√


√






√


Cukup

2


Noval


√




√




√




Kurang

3


Ela


√




√






√


Kurang

4


Femas


√






√




√


Cukup

2. Catatan Anekdot

Tanggal


Nama Anak


Komentar

5 Peb 2009


Zaky


Banyak bertanya tentang satu topik

11 Peb 2009


Rahma


Tidak mau bergabung dengan teman untuk sekian kalinya dengan alasan pusing

6 Maret 2009


Nabil


Beberapa kali keluar kelas dan bermain sendiri di playground sendiri

10 April 2009


Aisy


Menangis sepanjang kegiatan karena krayonnya tertukar sama Rifki

3. Kumpulan Kerja Anak (portofolio)

Berikut ini adalah contoh hasil kerja anak usia 4 tahun yang dapat didokumentasikan dalam portofolio. Gamgar/ tulisan anak berikut ini dapat dijadikan bukti keterampilan anak dalam berbagai aspek perkembangan.

4.Assesmen Kinerja

Mulai gradasi nomor 1sampai 5 dari kurang sekali sampai baik sekali

NO


Pengembangan


Kegiatan


Assesmen


Ket

1


2


3


4


5

1


Fisik


Munggunting

Menjiplak

Merobek

Memantulkan bola




























IV. Kesimpulan

Vigotsky mengatakan bahwa jalan pikiran anak harus dimengerti dari latar belakang sosial budaya dan sejarahnya.Artinya untuk memahami pikiran anak bukan dengan cara menelusuri apa yang ada di balik otak dan di kedalam jiwanya, akan tetapi dari asal- usul tindakan sadarnya dan dari interaksi sosial yang dilatari sejarahnya hidupnya (Moll & Greenberg,1990).

Membangun pengetahuan pada anak sangat berbeda dengan orang dewasa. Membangun pengetahuan anak haruslah berdasarkan pada bermain dan permainan.Dengan melalui kegiatan bermain anak-anak dapat mengembangkan berbagai aspek yang diperlukan untuk persiapan masa depan.Bermain antara lain membantu perkembangan tubuh, perkembangan sosial, perkembangan kognitif dan moral serta kepribadian maupun bahasa. Bermain juga bisa menjadikan media untuk membina hubungan yang dekat antar anak atau anak dengan orang tua/guru, orang dewasa lainnya sehingga tercipta komunikasi yang efektif.

Metode mengajar yang sesuai dengan karakteristik anak usia dini ditinjau dari pendekatan teori belajar menurut Vygotsky adalah : Bermain, pemberian tugas, demonstrasi, tanya jawab,mengucap syair, eksperimen, berceritera, karyawisata dan dramatisasi.

Karena merupakan salah satu rangkaian proses pengembangan kognitif, maka evaluasi harus dilakukan. Evaluasi diadakan dengan tujuan yang didasarkan pada pengharapan (ukuran keberhasilan) setiap anak yang berbeda sehingga evaluasi harus dilakukan berdasarkan ukuran keberhasilan yang berbeda pula. Melalui evaluasi dapat ditentukan tingkat ketercapaian tujuan.

Alat evaluasi dapat digunakan untuk mengetahui pengembangan kognitif pada anak adalah: Observasi, catatan anekdot, portofolio,assesmen kinerja,assesmen diri.

V. Saran/ Penutup

Dalam proses pembelajaran, guru hendaknya melihat hasil belajar anak dari berbagai sudut kinerja psikologis yang utuh dan menyeluruh, baik dari segi kognitif, behavioristik (tingkah laku) ataupun humanistik.Dari segi kognitif guru hendaknya dapat memilih metode dan media yang sesuai dengan perkembangan kognitif anak, sehingga hasil belajar dapat tercapai sesuai dengan tujuan yang diharapkan.

DAFTAR PUSTAKA

Arief S. Sadiman, dkk. Seri Pustaka Teknologi Pendidikan No. 6

Arsyad, Azhar. 2003. Media Pembelajaran. Jakarta: Raja Grafindo

Bredekamp, Sue & Teresa Rosegrant, (1992), Reseaching Potentials

Approach Curriculum and Assesment For Young Children,

Volume 1, Washington: NAEYC

Depdiknas, Kurikulum Berbasis Kompetensi TK/RA,Jakarta:

Balitbang Depdiknas,2002

Dr. Yuliani Nurani Sujiono, M.Pd. Konsep Dasar Pendidikan AUD

Jakarta: Indeks

Drs. Hapidin, dkk. Prosedur Evaluasi Perkembangan Anak.

Makalah Workshop Kurikulum Berbasis Kompetensi GOPTKI.

GTZ Seqip-TK. Modul Pengajaran untuk Guru Taman Kanak-Kanak.

Hildebrand, Verna. (1986). Introduction to Early Chilhood Education

4th ed.New York: Mac Millan Publishing Company.


Mayke S. Teja Saputra. (2001). Bermain, Mainan dan Permainan

Untuk Pendidikan Usia Dini. Jakarta: Grasindo.

Moeslichatoen, R. (1999). Metode Pengajaran di Taman Kanak-Kanak.

Jakarta:Rineka Cipta.

Padmonodewo, Soemiarti. (2000). Pendidikan Anak Prasekolah.

Jakarta: Rineka Cipta.

Yuliani Nuran Sujiono, dkk. Metode Pengembangan Kognitif.

Modul 1-2 PGTK20101.Universitas Terbuka
Baca Terusannya »»  

Senin, 21 Maret 2011

Pemanfaatan Lirutase Menjadi Alat Permainan Edukatif

A.Latar Belakang

Selama kita hidup, selama itu pula kita berhubungan dengan sampah. Sampah merupakan ekses dari kegiatan kita, kita butuh makan maka kita akan menghasilkan sampah dari kegiatan makan tersebut. Sebelum makan mungkin kita perlu mengupas bungkus atau kulit makanan itu, atau menyisakan beberapa bagian dari makanan kita. Sebut saja kita makan buah maka kulit, biji dan tangkai dari buah tersebut menjadi sampah, kita makan permen pun kita berhadapan dengan pembungkus permen itu, apalagi makanan yang harus dimasak dan ditambahkan dengan berbagai bumbu… pastilah makin banyak sampah yang kita hasilkan. Tak heran jika beberapa Pemda sampai kewalahan mengatasi masalah sampah ini di wilayahnya. Tak terkecuali yang dihadapi oleh banyak sekolah , volume sampah yang dihasilkan cenderung meningkat sejalan dengan peningkatan jumlah peserta didik.

Limbah merupakan bagian tak terpisahkan dari kegiatan di lingkungan sekolah. Menurut Ecolink (1996), pada dasarnya limbah merupakan bahan yang terbuang atau dibuang dari hasil aktivitas manusia atau proses alam yang belum memiliki nilai ekonomis.

Limbah atau sampah juga merupakan suatu bahan yang tidak berarti dan tidak berharga, tapi kita tidak mengetahui bahwa limbah juga bisa menjadi sesuatu yang berguna dan bermanfaat jika diproses secara baik dan benar. Limbah atau sampah juga bisa berarti sesuatu yang tidak berguna dan dibuang oleh kebanyakan orang, mereka menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak berguna dan jika dibiarkan terlalu lama maka akan menyebabkan penyakit. Padahal dengan pengolahan sampah secara benar maka bisa menjadikan sampah ini menjadi benda yang bernilai tinggi secara ekonomis, seni dan edukasi.

Jika didasarkan asalnya, limbah dikelompokkan menjadi 2 yaitu :

1. Limbah Organik

Limbah ini terdiri atas bahan-bahan yang besifat organik seperti dari kegiatan rumah tangga/ sekolah, kegiatan industri. Limbah ini juga bisa dengan mudah diuraikan melalui proses yang alami. Limbah pertanian berupa sisa tumpahan atau penyemprotan yang berlebihan, misalnya dari pestisida dan herbisida, begitu pula dengan pemupukan yang berlebihan. Limbah ini mempunyai sifat kimia yang setabil sehingga zat tersebut akan mengendap kedalam tanah, dasar sungai, danau, serta laut dan selanjutnya akan mempengaruhi organisme yang hidup didalamnya. Sedangkan limbah rumah tangga / sekolah dapat berupa padatan seperti kertas, plastik dan lain-lain, dan berupa cairan seperti air cucian, minyak goreng bekas dan lain-lain. Limbah tersebut ada yang mempunyai daya racun yang tinggi misalnya : sisa obat, baterai bekas, dan air aki. Limbah tersebut tergolong (B3) yaitu bahan berbahaya dan beracun, sedangkan limbah air cucian, limbah kamar mandi, dapat mengandung bibit-bibit penyakit atau pencemar biologis seperti bakteri, jamur, virus dan sebagainya.

2. Limbah Anorganik

Limbah ini terdiri atas limbah industri atau limbah pertambangan. Limbah anorganik berasal dari sumber daya alam yang tidak dapat di uraikan dan tidak dapat diperbaharui. Air limbah industri dapat mengandung berbagai jenis bahan anorganik, zat-zat tersebut adalah:Garam anorganik seperti magnesium sulfat, magnesium klorida yang berasal dari kegiatan pertambangan dan industri.Asam anorganik seperti asam sulfat yang berasal dari industri pengolahan biji logam dan bahan bakar fosil.

Adapula limbah anorganik yang berasal dari kegiatan rumah tangga dan sekolah seperti: Botol plastik, botol kaca, tas plastik, kaleng dan aluminium.

Dari permasalahan diatas menumbuhkan kesadaran kami untuk memanfaatkan limbah yang dihasilkan dari aktivitas warga sekolah /RA (Raudlatul Athfal ) Matholi;ul Huda 01, industri kerajinan tenun ikat, dan rumah tangga sebagai bentuk kepedulian terhadap kebersihan dan kesehatan lingkungan serta sebagai upaya pelestarian lingkungan dengan cara membuat sumber belajar berbasis limbah/ sampah, tentu saja juga karena pertimbangan kemampuan finansial RA (Raudlatul Athfal) yang sangat terbatas.

Tak ada rotan akarpun jadi, barangkali ini merupakan ungkapan yang tepat. Sebagai upaya peningkatan mutu pembelajaran, kami sebagai pendidik tidak habis akal menyiasati minimnya bugdet untuk pengadaan APE (Alat Permainan Edukatif). Semoga upaya ini mampu mengembangkan dan mengasah kecerdasan peserta didik serta menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga kebersihan,kesehatan dan pelestarian lingkungan.

B. Sasaran

Alat permainan edukatif Lirutase ini mempunyai sasaran untuk anak pra sekolah yaitu 4-6 tahun, dengan harapan dapat memberikan stimulasi pada kemapuan dasar yang dimiliki anak secara optimal dan menyeluruh.

C. Manfaat

Alat Permainan Edukatif lirutase ini diaplikasikan dengan model pembelajaran Sentra Bermain aktif yang berisi berbagai variasi kegiatan bermain seraya belajar yang merupakan ciri dari kelas berpusat pada anak ( Child Oriented) dan dimodifikasi sesuai dengan perkembangan anak (Developmentally Appropriate Practice = DAP) serta berbasis pada Kecerdasan Jamak (Muiltiple Intelligent).

1. Pengembangan Moral dan Nilai Agama

Anak belajar sabar menunggu giliran dan mengikuti aturan permainan serta berdo’a ketika hendak memulai kegiatan bermain.

2. pengembangan Sosial Emosional

Meliputi pengembangan Perasaan dan Emosi serta pengembangan Kemampuan Sosial / Sosialisasi. Anak. Anak mampu bertenggang rasa, saling tolong menolong dalam permainan seni peran sebagai tenaga pemadam kebakaran dan saling menjaga keseimbangan serta keselamatan ketika mengendarai kendaraan /mobil pemadam.

Pengembangan ini mengarah pada pencapaian Kecerdasan Intrapersonal, Kecerdasan Interpersonal dan Naturalistik.

3. Pengembangan Bahasa

Meliputi pengembangan Bahasa agar anak mampu berkomunikasi secara aktif dan pasif dengan lingkungan. Di dalam permainan mengendarai mobil pemadam anak belajar berkomunikasi,misalnya: Melakukan 2-3 perintah memahami kata dan kalimat sederhana.

Pengembangan Bahasa mengarah pada pencapaian Kecerdasan Linguistik.

4. Pengembangan Kognitif

Meliputi pengembangan Matematika Permulaan dan Sains Permulaan. Pengembangan ini mengarah pada pencapaian Kecerdasan Logika Matematika dan Kecerdasan Visual Spatial.Anak bermain mengelompokkan benda ( bunga dari gelas plastik bekas) berdasarkan warna dan ukuran, membentuk berbagai pola serta menghitung jumlah benda.

5. Pengembangan Seni

Meliputi pengembangan Seni Musik dan Seni Tari sederhana serta keterampilan membuat karya kreatif (kerajinan tangan): Membuat kolase dari biji-bijian, kapas, manik-manik dan lain- lain pada bunga piring kertas dan menghias topi panggung dan bermain seni peran.

Pengembangan Seni mengarah pada pencapaian Kecerdasan Musikal dan Visual Spatial.

6. Pengembangan Fisik

Meliputi pengembangan Motorik Halus (fine motor) dan Motorik Kasar (gross motor) untuk pertumbuhan dan kesehatan anak.Hampir semua permainan Lirutase ini mengandung unsur gerakan- gerakan yang merangsang perkembangan motorik anak.Mulai dari menjahit pakaian, menjemur, bermain peran sebagai tenaga pemadam atau menggunting dan menempel pada pembuatan topi dan bunga piring kertas serta pembuatan boneka dari limbah industri kerajinan tenun ikat.

Pengembangan Fisik mengarah pada pencapaian Kecerdasan Body Kinestetik

D. Bahan Dan Alat

Bahan

Kardus bekas
Gelas/botol plastik bekas minuman

Biji-bijian
Kertas lipat
Piring kertas bekas hajatan
Benang kasur
Ranting kering
pasir laut
kapas
manik-manik
Benang limbah industri kerajinan tenun ikat
Kain perca tenun ikat
Keton benang
Cangkang telor

Alat

Gunting
Cutter
selotip bolak-balik
spidol/ crayon
Lem bakar
Lem kayu
Jarum
Pembolong kertas
Lakban
Cat poster
Cat minyak
perekat / kancing kait
pensil/ spidol

F. Tujuan Dan Cara Memainkan

Pada dasarnya secara keseluruhan APE ini bertujuan untuk menanamkan kepada anak tentang kepedulian terhadap keselamatan dan kelestarian alam lingkungan dengan memanfaatkan sampah yang berada di sekitar sekolah,industri kerajinan, rumah tangga dan menanamkan pola hidup seimbang seperti yang diajarkan oleh Rasulullah SAW serta mencegah pola hidup konsumtif. Selain itu pembuatan Alat Permainan Edukatif Lirutase ini juga sebagai sarana untuk menggali potensi dan kreativitas pendidik di RA Matholi’ul Huda 01 Troso sebagai seorang model, motivator dan fasilitator selalu dituntut kematangan yang mempersyaratkan Willingnes And Ability sehingga proses belajar jadi bermakna.

Dalam kegiatan belajar mengajar di Raudlatul Athfal setiap hari dibuka minimal 4 area yang kesemuanya mencakup pengembangan lima kemampuan dasar anak yaitu: Sikap perilaku, bahasa. Kognitif, fisik motorik dan seni.

Sebelum masuk kegiatan inti pada kegiatan awal pendidik mengawali kegiatan dengan menunjukkan gambar atau foto keadaan lingkungan yang penuh berserakan sampah yang tidak sedap dipandang mata dan dilanjutkan dengan memberikan pengetahuan dengan cara tanya jawab mengenai:

Pengertian sampah/ limbah
Bahaya limbah
Pentingnya pemeliharaan lingkungan
Pemanfaatan limbah

Dengan bahasa sederhana, pendidik membagi anak kedalam kelompok kecil untuk masuk ke dalam area –area sesuai keinginan anak dengan memakai APE Lirutase ini.Adapun permainannya adalah sebagai berikut:

Bermain Peran Mengoperasikan Mobil dan Menirukan Gerakan Pemadam

Permainan ini bertujuan :

Melatih dan mengembangkan motorikkasar anak
Memperkenalkan profesi/ pekerjaan seorang pemadam
Menyebutkankan macam dan fungsi kendaraan
Meningkatkan kemampuan sosial anak
Melatih daya imajinasi
Mengasah nilai seni dengan bernyanyi
Mengenal posisi depan-belakang
Memahami kata dan kalimat sederhana

Cara Bermain:

Secara bergantian anak masuk kedalam mobil pemadam ketika mendengar peringatan yang diperdengarkan oleh penddidik dengan cara memukul kentongan dan hitungan 1-2-3. Kemudian dua anak mengoperasikan kendaraan dan menirukan aksi pemadam kedepan dan belakang sambil bernyanyi :

Aku seorang pemadam

Mempunyai mobil tangguh

Kalau berjalan dam...dam...

Aku seorang pemadam 2X

2. Permainan Bunga Pintar



Permainan ini bertujuan :

Mengenalkan warna
Mengelompokkan benda berdasarkan warna
Mengelompokkan benda berdasarkan bentuk: Besar Kecil
Mengenalkan konsep bilangan
Menyusun Pola
Mengeksplorasi pikiran dengan berdiskusi tentang hubungan sebab akibat
Melatih motorik halus
Pengenalan tanaman
Mengasah nilai seni

Cara Bermain:

Anak- anak mengambil tumpukan bunga yang telah disediakan oleh pendidik, Kemudian menancapkan atau menanamkan pada pot berdasarkan warna bunga .Setelah itu menghitung berapa bunga yang ada di pot merah, hijau ,kuning dan berapa yang besar dan kecil. Cara lain yaitu anak bisa bermain kolase dengan menempelkan beberapa manik- manik, kapas,biji-bijian,daun dari kertas lipat yang melatih konsentrasi penuh.Dari kegiatan ini akan timbul hubungan interaksi dan komunikasi dengan teman sebaya (hubungan timbal balik). Selain itu bunga dari gelas plastik yang kecil bisa dipergunakan bermain meronce yang diselingi sedotan minuman bekas.

3 Permainan Boneka Modis

Permainan ini bertujuan:

a. Melatih motorik anak dengan cara menjahit

b. Melatih motorik halus untuk menjemur

c. Melatih motorik halus untuk memakai pakaian

d, Melatih motorik halus untuk melipat

e. Mengenalkan fungsi dan macam pakaian berdasarkan situasi

f. Mengajarkan sikap perilaku berbusana

g. Melatih kemandirian : Terbiasa mengurus diri sendiri

h. Melatih kreativitas

i melatih ketekunan dan kesabaran

Cara Bermain:

Anak menjahit pola baju yang telah disedikan, sambil bernyanyi:

Kerja-kerja mari kita kerja

Gunting jahit jadilah gaun

Gaun indah menarik

Untuk putri yang cantik

Setelah selesai anak menjemur dan menjepitnya dengan jepitan pakaian untuk melatih motorik halus. Cara yang lain adalah memakaikan pakaian pada boneka modis yang terbuat dari limbah industri kerajinan tenun dengan memadu padankan dengan pakaian yang sesuai dengan fungsi dan

Jenisnya. Disini pendidik bisa menyisipkan pesan-pesan moral keaagamaan bagaimana etika seorang muslim/ muslimah bersikap dan berpakaian. Selain itu boneka yang terbuat dari keton benang dan kulit/ cangkang telur ini juga bisa dijadikan peraga mendongeng atau bercerita.

4. Bermain Musik Dan Tari Dengan Topi Panggung

Permainan ini bertujuan:

a. Melatih motorik halus

b. Melatih motorik kasar

c. Mengasah kecerdasan fisik kinestetik ( Body Smart)

d. Menumbuhkan rasa percaya diri

e. Melatih nilai seni dengan menghias topi

f. Melatih daya kreasi anak dengan menciptakan pola-pola tertentu

g. Menumbuhkan pengembangan sosial emosional

h. Mengasah penguasaan kognitif bahasa

Cara Bermain:



Anak dibagi dalam tiga kelompok, masing-masing boleh memilih permainan topi ini : Menggunting pola topi yang telah disediakan pendidik , menghias/ mewarnai dengan krayon atau clay dan memasang (menempel) pada topi. Topi juga bisa dipergunakan untuk keperluan pentas seperti: Teater, tari.pantomim dan seni peran lain.



G. Simpulan/saran-saran

Masalah limbah dan penanggulangannya adalah PR bagi kita bersama utamanya kalangan pendidik karena erat kaitannya dengan kultur masyarakat yang seakan sudah terbiasa membuang sampah sembarangan, sehingga mengubah kebiasaan itu dirasa sulit. Yang harus kita lakukan sekarang adalah membiasakan anak-anak didik kita untuk tidak membuang sampah sembarangan dan mulai mengkonsumsi makanan-makanan alami dan meminimalisir penggunaan kemasan yang tidak dapat terurai ( anorganik).

Upaya kita sebagai pendidik,sebagai warga yang bertanggung jawab dan sebagai hamba Allah, untuk melestarikan alam lingkungan ( yang katanya adalah pinjaman dari anak cucu kita) barangkali salah satunya adalah melakukan hal-hal berikut:

Gunakan produk organik selama mungkin sepanjang bisa dilakukan, misalnya gunakan kantong plastik berkali-kali sebelum dibuang, gelas bekas air minum, kardus bekas dimanfaatkan untuk keperluan lain atau APE.
Perlakukan limbah anorganik dengan baik sehingga masih memberikan manfaat ekonomis dan edukatif.
Kembangkan kreativitas agar barang-barang bekas masih terus dimanfaatkan.
Kertas dan amplop dapat dipakai berkali-kali ( beri sedikit penjelasan kepada yang mendapat amplop bekas ini agar mereka maklum) atau dapat dibuat kertas daur ulang.
Mengurangi sampah dengan cara menggunakan barang-barang yang ramah lingkungan, misalnya gunakan lap atau handuk kecil daripada tissu,bawa air minum dengan tempat yang aman daripada air kemasan, bawa tas kain jika pergi berbelanja agar bisa mengurangi penggunaan tas plastik.

H. Penutup

Syukur tak terhingga penulis panjatkan kehadlirat Allah SWT atas segala nikmat dan kesempatan berhidmah, sehingga dapat ikut berpartisipasi dalam lomba dan pembuatan makalah APE ini. Saran dan masukan demi perbaikan selanjutnya sangat kami harapkan, semoga bermanfaat bagi kita semua

Amiin.
Baca Terusannya »»