Kamis, 28 Februari 2013

Tangis Rini di Sepertiga Malam

7 Desember belasan tahun yang lalu adalah hari paling besejarah buat Riri. Hari di mana ia menunjukkan pada dunia tentang simbol keibuan. Hari yang membuat ia bangga disebut sebagai ibu. Merasakan setiap hisapan lembut dari mulut mungil pada puting payudaranya. Sesekali ia merasakan geli dan getar-getar sensasi tak karuan.
Kini, Desember itu datang kembali membawa sejuta harapan, kecemasan dan optimisme yang semakin menipis. Kini sudah ada tiga buah hati yang tumbuh pesat yang mendekati akil baligh. Riri mulai kewalahan memhami mereka, bukan hanya dengan tubuh mereka tapi juga apa yang berkecamuk dalam benak mereka.
"Ah, andai kau tahu, nak. Ibu begitu mengkhawatirkanmu." Bisiknya dari kejauhan sambil memndangi foto profil yang ada di akun facebook putra sulungnya. Si tampan yang dulu berwajah chubby dan bicara dengan nada menggemaskan kini telah berubah menjadi sosok yang mempesona bukan hanya lawan jenis, tapi juga teman di lingkungan barunya.
Tak henti lantunan do'a-do'a dalam 24 jam ia panjatkan untuk keselamatan putra putrinya dari gangguan setan yang berbentuk gadis cantik atau pemuda ganteng yang berbicara cinta dan kasih sayang.
Televisi dan bioskop menayangkan sinetron dan film cinta murahan yang haram, dengan sedemikian indah dan mengharu biru. Infotainment merubah pezina, pelaku seks bebas yang jorok dan kotor menjadi pahlawan cinta dan kasih sayang.
Riri kembali terbenam dalam renungannya. Kembali teringat betapa dulu orang tuanya memproteksi dirinya dengan aturan yang ketat. Beberapa belas tahun yang lalu, bukan hanya orang tuanya, sejumlah bapak atau ibu lain masih berdiri di depan rumah dengan pentungan manakala ada pemuda datang mencari anak gadisnya di malam Ahad. Kini tidak sedikit ibu dan bapak yang meninggalkan rumah saat si gadis dikunjungi pacarnya.
Dahulu, majalah remaja mengajari pembacanya untuk menangkis bujuk rayu lawan jenis yang hendak bereksperimen seks. Kini, majalah remaja mengajari cara paling romantis dan seksi untuk melepas keperawanannya pada prom night.
Beberapa puluh tahun lalu, seorang gadis yang kehilangan keperawanannya akan mengurung diri dan mengunci rapat-rapat kamarnya apalagi sampai berani mengangkat wajahnya.Kini, gadis SMP dengan diantar pacarnya pergi ke bidan untuk meminta pil kontrasepsi atau menggugurkan kandungan adalah hal biasa. Bagi remja ini cinta adalah seks dan seks adalah cinta.
Air mata Riri semakin deras mengucur tanpa dihiraukannya. Ia kembali tengadah sambil bibirnya melantunkan pesan-pesan pada anaknya meski dari jarak berates-ratus kilometer.
Anakku, belajarlah dengan kurikulum utama, pelajaran utama bagi semua manusia, belajar mengenal Allah, kemhapenciptaanNya, kemahakuasaanNya dan kemhapemilikanNya atas kita.
Belajarlah rasa malu (hayya), belajarlah tentang cinta dan kasih sayang yang benar dan dizinkan Allah.

6 komentar:

  1. makasih, Ang
    kupikir ke mana ga pernah nongol

    BalasHapus
  2. "..Anakku, belajarlah dengan kurikulum utama, pelajaran utama bagi semua manusia, belajar mengenal Allah, kemhapenciptaanNya, kemahakuasaanNya dan kemhapemilikanNya atas kita.
    Belajarlah rasa malu (hayya), belajarlah tentang cinta dan kasih sayang yang benar dan dizinkan Allah./
    .."

    Sebuah nasihat yang sangat bijak.
    Terima kasih artikelnya yang penuh makna.
    Nggak ikut Kontes Unggulan Enam Puluh Tiga ,Jeng ? Gampang lho

    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pak Dhe ya
      Apa kabar, pak Dhe
      Insya Allah ikut deh

      Hapus
  3. keren banget artikelnya....kekhawatiran yang sama, yang saya rasakan sebagai seorang ibu dg 2 anak gadis remaja....

    BalasHapus